Rabu, 14 April 2010

KEAJAIBAN DAN KAROMAH ABUSA’ID

KEAJAIBAN
DAN KAROMAH
ABUSA’ID

Salah satu dari sekian banyak Sufi
Terbesar pada abad X dan XI M adalah
ABUSA’ID AL KHAIR dari Maihana.
Orang suci ini dikenal memiliki sejumlah
keajaiban dan karomah ….

Menurut Dr.A . Zarinkoob didalam bukunya yang berjudul ( the Value of Sufi Heritage ), Syekh satu ini banyak memiliki keajaiban dan karomah yang terlalu dilebih-lebihkan. Walau begitu, Abu Sa’id memiliki banyak pengikut dan penganut sangat fanatik.

Sebagaimana kajian pada umumnya, untuk memahami sosok Abu Sa’id secara jernih dan obyektif diperlukan tinjauan atas ilmu esotarik dan eksoterik . keberanian dan kegemarannya kegemarannya sama tarian eksatik dan lantunan syairnya telah menimbulakn keanehan tersendiri di kalangan para Ulama dan Ilmuan yang hidup sezaman dengannya.

Banyak yang dilakukan untuk membunuh Abu Sa;id, namun dengan bijak Syekh suci yang hidup di abad XI Masehi tepatnya di masa khalifah Abasyiah ini dapat tehindar karena kedalamannya ilmunya.

Sebelum menempuh jalan Sufi dia telah menghapal lebih dari ( 30,000 ) bait Syair kegemarannya akan syair ini terus berlanjut sampai akhir hayatnya. Bahkan sebagai guru dan syekh sufi,

Dia menggunakan syair dengan dua cara yang berbeda. Di anrtaranya adalah Melantunkan dalam pagutuban dan pertemuan kaum sufi dan majlis sama guna meningkatkan intensitas keadaan ektase.

Abu Sa’id Abu Al Khair kecil lahir pada ( 987 M ) di kota Maihana di kawasan Iran timur laut, dan wafat di tempat yang sama pada tahun ( 1061 M ). Ayahnya adalah pemeluk Islam ortodok yang shalih, namun akrab dengan tarekat dan jalan sufi.

Pada suatu ketika, sang ibu membujuk ayahnya agar mengajak Abu Sa’id dengan harapan agar memproleh berkah dari kaum sufi. Sejak itulah api cinta pada illahi yang ada didalam diri Abu Sa’id bergelora. Bahkan, setibanya dirumah dengan serta merta dia meminta kamar khusus yang dindingnya diberi lukisan yang bertuliskan “ Allah “ ketika hal itu

ditanyakan oleh ayahnya, dengan tegas Abu Sa’id menjawab, “ setiap orang menulis nama Rajanya di dinding rumahnya. “ Sang ayah pun langsung saja kagum terhadap sikap anaknya ini.

Sejak itu pula sang ayah melakukan apa saja guna mendidik Abu Sa’id. Mulanya, dia dibawa ke Muhammad Anazi untuk belajar dasar-dasar ilmu Qu’an dan tata bahasa arab.
Pada suatu ketika, saat dia dan ayahnya berangkat untuk menunaikan ibadah shalat jum’at, keduanya bertemu dengan ( Pir Basyr ), wali besar pada masa itu. Ketika melihat Abu Sa’id, Pir Basyr mengalami ektase dan berkata kepada ayah sang bocah, “ Kami tidak bisa meninggalkan dunia ini karena tetap kami akan kosongdan kaum Darwis sudah ditinggalkan sendirian. Kini, aku bisa beristirahat dengan tenang dan yakin.”

Kemudian, dia meminta Abu Sa’id dan ayahnya untuk singgah di pondok dan bercakap-cakap sebentar dengan Pir Basyr, tuan meminta ayah Abu Sa’id untuk memanggil anaknya guna mengambil sepotong roti di atas rak yang lumayan tinggi. Bartahun – tahun kemudian baru Abu Sa’id kejadian yang sebenarnya ; “ Roti itu hangat ketika kusentuh. “ dan ketika Pir Basyr mengambilnya dari tanganku, dia sangat senang dan terharu. Kemudian dia memotong Roti itu menjadi dua bagian. Dia memakannya sepotong dan memberikan sisanya kepadaku. Ayahku heran sebab dia tidak diberi bagian berkah illahi itu.

“ sudah ( Tiga puluh tahun ) aku
meletakan roti ini di atas rak itu.
Aku dijanjikan bahwa orang sentuhan
Tangannya mampu menghangatkan roti ini
Akan menghidupkan Dunia. “

Dikisahkan oleh Abu Sa’id juga, “ saat itu, Pir Basyr pun berkata kepada ayahku, Roti ini di atas itu. Aku dijanjikan bahwa orang yang sentuhan tangannya mampu menghangatkan ( Roti ) ini akan menghidupkan dunia.”
Sejak itulah abu Sa’id mendapatkan bingbingan dari Pir Basyr tentang cinta

tampa pamrih kepada Allah, yang segala hal dilakukan bukan untuk mengharapkan ganjaranatau takut akan hukumaNya. Melainkan hanya untuk cinta !
Pada suatu ketika, Pir Basyr bertanya kepada Abu Sa’id ihwal apakah dia ingin berdialog dengan Allah.
“ tentu saja aku ingin, “ jawab Abu Sa’id.
Manakala engkau sedang sendirian, lantunkan syair ini ;
TampaMu
Duhai kekasih
Aku tak bisa istirahat
Tak sanggup kuhitung kebaikanMu
Kepadaku
Meski setiap utas rambut ditubuhku
Menjadi lidah
Tak mampu kuucapkan seperseribu
Syukurku kepadaMu.”
Begitu sering Abu Sa’id mengulang-ngulang syair itu, maka tak heran, di usia muda dia sudah menuju jalan Allah. Dan tak lama setelah Pir Basyr meninggal dunia, dia pun berguru kepada ( Abu Ali Faqih ) di kota Sarakhs. Di kota inilah dia berjumpa dan bersahabat debgan ( Lukman ), seorang shalih yang bakal mengubah jalan hidup dan kehidupannya.

Pada suatu ketika, Sa’id melihat Lukman, sahabatnya duduk di atas seonggok abu dan membuat sesuatu dari kulit domba. Dan saat ditanya, Lukman pun menjawab,” Aku membuat jubah untukmu ,” ujarnya sambil menggamit tangannya dan membawanya ke khanaqah Pir Abu’ al Fadhl Hasan.

Saat itu juga Pir Abu’al Fadhl Hasan memberitahukan bahwa ( 124 ) ribu Nabi telah datang dan menyeru manusiauntuk memenuhi panggilan Allah. Bagi yang tidak memperhatikan, peringatan itu dianggap sebagai angin lalu saja. Tetapi, bagi sebagian orang yang Taqwa, mereka langsung saja melantunkan Asma Allah berulang-ulang dan tenggelam dalam ( Dzikir ) sehingga hatinya pun menjadi bersih. Dan Asma Allah pun muncul di hati mereka.

Kata-kata Abu Al Fadhl sangat berpengaruh pada Abu Sa’id, sehingga malam itu dia tidak bisa tidur barang sekejap.

Esoknya, dia langsung disuruh meminta keterangan dari Abu Al Faqih setibanya disana, dia langsung disuruh meminta keterangan dari Pir Abu al Fadhl Hasan. Sesudah berkhidmat, dia diminta untuk segera pulang ke kampung halamannya guna berkhalawat dan bersimpuh kehadirat Allah. Dan selama rentang waktu itu, dia duduk di padepokannya dengan mengulang – ngulang Asma Allah. Bahkan ketika ia tertidur atau pikirannya sedang pepet, terlihat olehnya sesosok bayangan membawa tongkat api yang menyuruhnyauntuk kembali melantunkan kata – kata itu. Ketakutan Abu Sa’id akan bayangan itu membuat dia terus mengulang – ngulang Asma Allah bahkan segenap wujud dirinya mulai mengucapkan kata yang sama ; ( Allah , Allah , Allah ) .

Sesudah peristiwa itu, dia kembali kepada Abu al Fadhl dan mulai mengamalkan kehidupan zuhud secara keras dan ketat. Pada akhirnya, dia diterima sepenuhnya oleh Pir Abu Al Fadhl dan menerima jubah sufi darinya. Dan setelah gurunya wafat, kembali Abu Sa’id melanjutkan khalawatnya

dengan lebih keras lagi.
Abu Sa’id menghabiskan tujuh tahun di tanah gersang dan hanya makan akar – akaran dari tanaman berduri yang tumbuh di sekitarnya. Selanjutnya, dia melangkahkan kakinya ke kota Amul dan berhidmat kepada Syekh Abu al Abbas dan mukim selama setahun di sana. Di kota ini, dia menerima jubah sufi untuk kedua kalinya.

Bagi Abu Sa’id, Syekh Abu al Abbas adalah seorang guru yang sempurna dan insan kamil. Perasaannya terhadap sang guru amat dalam, sehingga acap kali mengunjungi makam sang guru di Sarakhs tiap ia mengalami pengalaman mistis yang tak sanggup diatasinya.

Setelah melewati latihan – latihan panjang dan mencapai kesempurnaan, Abu Sa’id pun mulai menghentikan latihan kezuhudannya yang keras itu. Kinu dia tak lagi perlu melakukan berbagai amalan dan latihan secara ketat. Pandangannya langsung tertuju kep pada Allah.

KEAJAIBAN YANG DITUNJUKAN ABU SA’ID

Suatu malam, Raja Mahmud yang sangat dihormati oleh Syekh bermimpi melihat
Gunung di dekat Nisyapur terbelah menjadi dua dan terbitlah bulan purnama.bulan itu.
bergerak kelangit dan mendarat di khanaqah di kawasan distrik Adanykoyoun. Dari mimpi itu Mahmud tau bahwa telah datang seorang tokoh spiritual ke Ni syapur. Seorang pecinta pripurna kepada Allah biasa dilambangkan sebagai bulan purnama yang tidak punya cahaya sendiri tetapi sepenuhnya memantulkan cahaya matahari keagungan ( Allah ). Sedang terbelahnya Gunung menandakan tiada hambatan apa pun yang merintangi jalan orang seperti itu.

Kemudian, Mahmud pun berangkat ke luar kota guna menyambut kedatangan Abu Sa’id dan membawanya ke Khanaqah.

Sebagaimana kodrat alam yang selalu mendua. Kedatangannya Abu Sa’id ternyata mengundang rasa tidak suka pada beberapa kalangan. Diantaranya dua kepala suku dan sekaligus fundamentalis ektrim. Abu Bakr Ishak dan sa’id keduanya menganggap Abu Sa’id sebagai ahli Bid’ah, dan selalu menggunakan kesempatan untuk menghentikan tindakannya. Bahkan, keduanya nekad melaporkan kepada Raja Mahmud, mereka diprolehkan untuk menggunakan Syekh Sufi yang baru datang itu sesuai dengan keinginannya asalkan tidak menyimpang dari hukum Islam.

Walau pengikut Abu sa’id tahu, tetapi tak ada seorangpun yang berani melaporkan keadaan itu kepada sang guru.

Pada saat shalat jum’at, dimana Imamnya adalah sa’id, salah seorang musuhnya, sebelum selesai khutbah Abu Sa’id meminta kepada Hasan untuk membeli Kauk ( Kue kering ) dan managha ( Kacang polong ) dan mengantarkannya kepada Abu Bakr sambil menyampaikan pesan yang berbunyi , “ Abu Sa’id ingin agar engkau berbuka dengan makanan ini.

Abu Bakr langsung menyimpan makanan itu untuk berbuka puasa. Dan tak lama setelah itu, dia mengirim utusan untuk menyampaikan pesan kepada Sa’id, sahabatnya,” Aku tidak mau bekerjasama tak mungkin aku mampu melawan orang yang tahu banyak tentang segala yang terbesit di dalam hati orang lain.

Bahkan, utusan Abu Bakr menceritakan betapa ketika dirinya berpesan dengan Abu Sa’id, mendadak segala kekuatannya seolah tercabut dari tubuhnya.

Kisah lain menyebutkan, pernah pada suatu ketika Abu Sa’id kedatangan ( 80 ) darwais dari luar kota dan ( 40 ( dari sekitarnya. Kemudian menyuruh Hasan untuk menyajikan makanan berupa daging panggang yang diolesi gula, manisan dan air mawar, dan membakar daging itu dengan kayu Gaharu serta dusajikan di atas meja bertaplak putih di Masjid kota

. Maksudnya, agar orang tahu makanan apa yang disajikan untuk pilihan Tuhan dari alam Gaib.

Dengan hati bingung Hasan berangkat ke pasar tampa membawa uang barang sepeserpun. Dan setibanya di pasar, Hasan hanya berdiri di depan pintu pasar sampai seluruh toko tutup. Beberapa saat kemudian, ada seseorang mendekati dan bertanya ikhwal kesulitannya. Setelah Hasan menceritakan, orang itu tersenyum dan menyuruhnya

mengambil uang sebanyak yang dibutuhkannya.
Kisah lain diceritakan tentang hari-hari akhir Abu Sa’id, pada usia ( 82 tahun ). Ketika itu dia pergi dari Ni Nyapur menuju Maihana. Dalam setiap ceramah dia meramalkan, sesudah wafatnya nanti, Allah akan di depak dari komonitas Manusia. Saat itu, Manusia bakal tenggelam dalam berbagai urusan materi dan mengabaikan spiritual.

Dan didalam akhir ceramahnya dia mengatakan, “ Jika seseorang bertanya tentang Identitasmu, jangan katakan bahwa kalian adalah seorang Mukmin, Sufi atau Muslim ; sebab kalian akan diminta untuk membuktikan apa saja yang kalian katakan , sebaiknya katakan bahwa kalian adalah pengikut, dan pemimpinmu ada dimana-mana. Katakan, tanyalah pemimpin-pemimpin kami, sebab hanya mereka yang punya jawaban. Carilah siapa pemimpin spiritual kalian. Sebab, jika kalian dibiarkan sendiri, akan banyak kerusakan.

Abu Sa’id meninggal pada ( 1061 ) dan dikebumikan di Maihana. Makamnya dipelihara oleh keturunannya selama ( 120 tahun ), dan sesudah invasi kau mturcemon dan suku Ghuzz, sekitar tahun 115 anggota sekeluarganya dibantai dan kota itu sendiri akhirnya hancur lebur.

Rahmat Mulyadi. Taman Bima Permai Blok A 11 Cirebon Jabar

Tidak ada komentar: