Kamis, 12 Maret 2020

Pelajaran Agung dari Nabi Ibrahim

Kisah-kisah perjalanan tauhid dan ruhani begitu abadi dalam Al-Qur’an, yang dipresentasikan melalui kisah-kisah agung para Nabiyullah as. Kisah teologis, sekaligus kisah esoterik ruhani, yang dialami oleh manusia sepanjang masa, tak habis-habisnya menjenguk ayat-ayat yang diungkapkan dalam kisah Nabi Ibrahim as berikut ini.
Nabi Ibrahim as, mendapat gelar sebagai Bapak Tauhid, karena drama kehidupannya yang luar biasa, baik secara sosial, ekonomi, politik, agama, maupun budaya.  Dari nasab atau kerurunan Nabi Ibrahim as, lahirlah para Nabi-nabi dan para Rasul yang mulia, antara lain karena barokah doa beliau, agar keluarganya menjadi pemimpin yang bertaqwa dan menjadi generasi yang menyejukkan matahati.
Generasi tauhid yang tampil begitu indah di hadapan peradaban bumi, diantaranya menjadi manusia-manusia pilihan Allah Ta’ala, dari para Nabi, para wali, para sufi dan para Ulama Allah Swt, dan orang-orang saleh. Keluarga manusia penuh cahaya.
Dalam sebuah kisah Al-Qur’an perjalanan spiritual Nabi Ibrahim as, digambarkan dengan ayat:
“Dan begitu juga Kami tampakkan pada Ibrahim, kerajaan langit dan bumi, agar dia benar-benar masuk golongan orang-orang yang yaqin.” (Al-An’am 75).
Nabi Ibrahims as, secara sufistik di-mukasyafah-kan rahasia alam Malakut dan Nasut, agar memasuki Alam Jabarut yang dihuni kaum yang maqomnya total Haqqul Yaqin.
Dimulailah pengembaraan ruhani tetang hakikat diri, hakikat alam demi alam ciptaanNya, dan Siapa sebenarnya Dia Al-Haq Azza wa-Jalla Swt. Inilah proses suluk (penempuhan Jalan Ruhani) yang dahsyat dalam rangka meraih Ma’rifatullah.
Maka: “Ketika malam telah gelap, ia melihat bintang-bintang. Ia berkata, “Inilah Tuhanku.”Namun ketika (bintang-bintang) itu sirna, Ibrahim berkata, “Aku tidak suka hal-hal yang sirna.” (Al-An’aam, 76).
Ketika perjalanan awal ia melihat dirinya sebagai pantulan makrokosmos, yang tampak adalah kegelapan. Lalu ia melihat “bintang-bintang ilmu pengetahuan” yang begitu indah dan memuncak dibalik tafakkurnya, sampai-sampai ia merasa telah final ma’rifatnya. Dan ia menyangka, “Inilah Tuhanku….!” Ia merasa berjumpa dengan Tuhan, padahal tak lebih dari bayangan-bayangan dari lapisan CahayaNya saja, yang menjadi hijab Cahaya bagiNya, satu lapis hijab Cahaya, serasa sudah bertemu Tuhannya, ma’rifat padaNya, musyahadah padaNya.
Tiba-tiba cahaya itu tak lebih dari pantulan kegelapan makhluk pula, dan “Aku tidak suka dengan hal yang sirna.”
Inilah yang digambarkan oleh Ibnu Athaillah as-Sakandary dalam Al-Hikam, “Tak ada hasrat para penempuh (salik) ketika berhenti saat di-mukasyafah-kan (dibukakan rahasiaNya) melainkan akan muncul panggilan lembut dari inti hakikat, ‘Yang kau cari itu masih ada di depanmu. Dan fenomena alam semesta fisik tidak akan tampak, kecuali hakikat-hakikatnya bicara.’ Sesungguhnya kami adalah cobaan, maka janganlah kufur.”
Yang kau cari bukan yang tampak nyata, maupun cahaya yang tersembunyi dibaliknya. Karena yang kau cari itu tak lebih dari cobaan dan ujian dari Allah Swt. Bintang-bintang pengetahuan yang dalam, bukanlah akhir dari tujuan ma’rifah, tetapi tak lebih dari instrument-instrumen yang dibutuhkan untuk menuju Sang Empunya dan Pencipta bintang-bintang pengetahuan.
Banyak manusia yang diperbudak oleh ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, hanya karena menganggap ilmu pengetahuan itu sebagai akhir tujuan. Apalagi jika dalam kisah Ibrahim as, bintang yang tampak secara materi, jika tidak terselematkan melalui hidayahNya, manusia bisa menyembah bintang dan, menyembah ilmu pengetahuan.
Begitu pun para penempuh Thariqah Sufi, disaat Allah Swt membukakan rahasia ilmu pengetahuan, banyak mereka yang terhenti, seakan-akan ia telah menggapai puncak spiritual dengan pengetahuannya, lalu berakhir dengan ketakjuban dan kesombongan intelektual.
Maka, ketika cahaya lebih besar tampak, yang digambarkan dengan memandang bulan, Nabi Ibrahim as, sempat mengklaim, “Inilah Tuhanku!” Seperti dalam ayat: “Kemudian tatkala ia melihat bulan terbit, ia berkata “Inilah Tuhanku, tetapi setelah bulan itu terbenam, ia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi hidayah kepadaku, pastilah aku tergolong orang-orang yang sesat.” (Al-An’aam, 77).
Disaat para penempuh sedang dibukakan Cahaya yang lebih besar, maka limpahan-limpahan Cahaya Ilahi mulai memancar, dan itulah Cahaya Rembulan Musyahadah, yang tampak mempesona penuh keindahan luar biasa dibalik Rahasia Ilahi. Keindahan yang membuat para penempuh jadi tercengang, dan spontan mengatakan, “Aku sudah sampai padaNya…Aku sudah ma’rifat dan inilah yang aku cari selama ini…”Ia rupanya fana’, tetapi baru fana’ pada Sifat-sifat yang memancarkan limpahan Cahaya di balik “bukan Musyahadah”.
Cahaya rembulan Qalbu, yang jadi pantulan dari Matahari Ma’rifat, terurai dalam bintang-bintang ilmu pengetahuan, belumlah usai perjalanan sang penempuh.
Perjalanan itu ternyata berakhir ketika Rembulan Qalbu harus tenggelam dalam Matahari Ruh dan Rahasia Ruh, dan Nabi Ibrahim as, sangat menyadari bahwa perjalanan ruhani itu sungguh butuh bimbingan hidayahNya. Karena ia gagal memandang makhlukNya dengan dirinya sendiri, namun ia harus memandangnya bersama PandanganNya. Ia harus memandang semua ini bersama Allah Rabbul ‘Izzah.
Lalu terbitlah pancaran cahaya yang luarbiasa, yang muncul dari matahari Ma’rifat. Maka: “Kemudian ketika ia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku! Ini lebih besar”. Maka ketika tenggelam ia berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung pada agamaNya yang benar. Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Al-An’aam: 78-79).
Pancaran cahaya ma’rifat yang lebih besar, dari ruh yang dahsyat, sampai sang penempuh pun (sebagaimana Nabi Ibrahim as) merasa telah bertemu Tuhan.
Inilah yang dikhawatirkan para Sufi, jika para penempuh tidak dibimbing Mursyid, maka ketersingkapan ruhani bisa membuat ia terjebak dalam tipudaya, dan berakhir sebagai Istidroj, bukan sebagai anugerah.
Istidroj yang menimpa orang-orang ‘arifin (yang ma’rifat) adalah ketika ia terpesona oleh cahaya kema’rifatannya, dan lupa kepada Yang Dima’rifati (Allah Swt.). Karena itu Nabiyullah Ibrahim as, segera kembali kepada Sang Pencipta Matahari, Bulan dan Bintang, Sang Pencipta Langit dan Bumi serta seisinya. Karena Dialah yang sesungguhnya dituju. Itulah yang disebut Ma’rifat Dzat, yang berarti juga Fana’ fidz-Dzat hingga sampai Al-Baqa’ yang tiada hingga.