Rabu, 14 April 2010

HUJJATUL ISLAM IMAM AL- GHAZALI

Dia mencari ………………….
Dia tidak puas ………………….
Dipelajarinya Ilmu Fiqih sedalam-dalamnya, yaitu Ilmu Hukum2 Syara’, Undang2 Pidana dan perdata dalam Islam.

Tetapi ia belum puas, sebab jiwanya tidak bisa menerima cara diskusi2 an, cara soal jawab yang berbelit-belit. Apa yang ditulis oleh para Fuqaha, tidak dapat diresapkan dalam bathinnya, sebab yang dicarinya, ialah yang dapat diterima oleh jiwa dan hati.

Dipelajarinya ilmu Klam, atau Ilmu Tauhid, suatu Ilmu intinya falsafah keagamaan. Ulama2 ini banyak membicarakan hal Ketuhanan dan sifat2 Ketuhanan dan membikin gambar rencana pembangunan dengan Ilmu Pasti dan Al-jabarnya.

Dipelajarinya tentang falsafah, yang menjadi kebanggaan otak manusia, tetapi ia jadi bingbang tentang teori2 rumus2 kefalsafahan. Apa yang dicarinya masih belum ketemu, jiwanya masih kehausan, hatinya masih belum puas, kemajuan yang sudah dicapai oleh otak manusia itu, baru sedikit, jika dibanding dengan ilmunya Tuhan.

Sebab itu, dia pergi kepada Tuhan, memencilkan diri dari masyarakat ramai, bersemedi, bermunajat dan bertaqarrub kepada Tuhan, diserambi-serambi dan di-menara-menara mesjid.

Disinilah Ghazali baru merasa tenang dan tentram jiwanya.

Menurut Ghazali ; Cinta kepada Tuhan dan pelepasan jiwa dalam beribadah kepada Tuhan, itulah hidup, itulah tujuan hidup, itulah kebahagiaan hidup.

Dibawah ini dipersilahkan membaca teori’ Ghazali. Tentang hidup : kebahagiaan itu, adalah keni’matan dan kelezatan. Kelezatan sesuatu, menurut wataknya, dan wataknya sesuatu menurut kejadiannya.

Maka kelezatan mata dalam melihat yang indah2, kelezatan telinga dalam mendengar suara yang merdu. Demikianlah buat semua anggota. Dan kelezatan jiwa ialah Ma’rifat kepada Tuhan. Sebab untuk itulah jiwa dijadikan. Apa yang belum diketahui manusia, gembira. Jika sudah duketahuinya, ia merasa gembira. Demikianlah halnya jika manusia itu sudah mempunyai Ma’rifat kepada Tuhan, ia merasa senang dan dirindu, oleh karena kelezatan jiwa itu ialah Ma’rifat, semakin banyak Ma’rifat, semakin banyak pula kelezatannya. Tidak ada Ma’rifat yang lebih tinggi daripada Ma’rifat kepada Tuhan, dan tidak ada kelezatanyang lebih ni’mat daripada kelezatan Ma’rifat kepada Tuhan.

Semua kelezatan birahi bergantung kepada nafsu, bisa hilang karena mati. Tetapi kelezatan Ma’rifat kepada Tuhan, adalah bergantung kepada jiwa, kelezatan mana tidak bisa hilang karena mati, sebab jiwa tidak bisa mati, tetapi abadi. Bahkan kelezatan jiwa itu akan bertambah besar dan lebih banyak lagi, karena dengan kematian itu jiwa telah meninggalkan kegelapan kearah terang.

Imam Ghazali, telah berjasa besar terhadap masyarakat Islam, dengan membawa angin baru yang meniup kedalam jiwa dengan keimanan yang murni menuju kepada Tuhan, yang dapat dicapai oleh semua lapisan masyarakat, oleh para Ulama, oleh para sarjana dan oleh rakyat pada Umumnya.

Rahmat Mulyadi Taman Bima Permai Blok A 11 Cirebon Jabar

Tidak ada komentar: