Kamis, 27 Februari 2020

Abu Thalib Al-Makki, Pemandu Amalan Tarekat Para Sufi

Ia sufi  besar, pengarang  kitab Qutubul Qulub fi Mu’ammalatil Mahbub, yang menjadi panduan bertarekat para sufi
Ia dikenal sebagai sufi jenius dalam hal pemikiran yang tertuang dalam beberapa kitab, juga pengarang kitab ilmul Qulub dan Qutubul Qulub fi Mu’ammalatil Mahbub, yang cukup populer dikalangan para sufi maupun pengamat Tasawuf karena sering dirujuk dalam berbagai perbincangan. Dialah Abu Thalib Al-Makki.
Ia lahir di Jabal, sebuah desa tidak jauh dari Baghdad, Irak. Nama lengkapnya Muhammad bin Ali bin Athiyah Abu Thalib Al-Makki Al-Haritsi Al- Maliki. Dua nama di bagian belakang adalah julukannya. Ia mendapat julukan Al-Haritsi, karena memang dari suku Harits. Sedangkan julukan Al-Maliki, sebab ia bermazhab Maliki, sementara julukan Al-Makki, karena ia dibesarkan di Mekah.
Seperti beberapa sufi besar lainnya, tahun kelahiran Abu Thalib juga sulit ditemukan, tapi riwayat hidupnya bisa dilihat dari beberapa catatan dalam berbagai leteratur, meski hanya sedikit, catatan-catatan tersebut bisa mengungkapkan perikehidupannya. Abu Thalib Al-Makki wafat pada tahun 368 H / 966 M di Bahgdad.
Ia memulai pendidikannya dengan belajar ilmu agama dari berbagai ulama, kemudian memperdalam ilmu hadis, terutama ia berguru kepada Syekh Ali bin Ahmad bin Al-Misri (w.364/944 M) dan Syekh Abubakar Muhammad bin Ahmad Al-Jurjani Al-Mufid (w.378H/958 M). belakangan ia belajar ilmu fikih mazhab Maliki. Keluasan wawasannya dalam mazhab Maliki inilah yang membuat ia mendapat julukan tambahan Al-Maliki.
Setelah merasa cukup menimba ilmu di Mekah, ia mengembara untuk memperluas wawasan keilmuannya, hingga akhirnya berlabuh di Basrah, Irak, yang kala itu terkenal sebagai pusat ilmu dan peradaban. Di sini ia berguru ilmu tasawuf kepada Syekh Abul Ahmad bin Muhammad ibnu Ahmad bin Salim Ash-Saghir (w. 360 H/940 M), sufi besar pendiri Tarekat Salimiyah, bersumber dari tasawuf Sahab bin Abdullah At-Tustari, yang sangat terkenal di Baghdad kala itu.

Tujuh Piranti

AllahBelakangan ia melanjutkan pengembaraannya ke Baghdad, Irak. Di sini ia mengalami kesulitan, karena masyarakat tidak menerima tarekat Salimiyah, hanya menerima tarekat Junaidiyah, sehingga ia di larang mengajarkan tasawuf Salimiyah. Meski begitu ia mempunyai kelebihan dalam pemikiran Tasawuf yang terekam dalam beberapa kitabnya.
Sayangnya hanya dua kitab yang tersisa yang dapat dibaca oleh generasi berikutnya: Al-Ilmul Qulub, dan Qtubul Qulub fi Mu’ammalatil Mahbub. Dua kitab ini cukup berbobot dalam hal analisis mengenai amalan sufi berikut argumentasinya, begitu pula jalan yang ditempuh para sufi dalam memantapkan jiwa dan keyakinan hati. Bahkan Imam Ghazali juga menggunakan metode dan sistem Abu Thalib dalam beberapa pemikirannya.
Kitab Qutubul Qulub menjadi panduan standard bagi para sufi. Itu sebabnya banyak ulama yang memberikan syarah atau komentar dan penulisan ulang terhadap kitab ini. Salah satunya ditulis oleh Muhammad bin Khalafuddin Al-Umawi, yang meringkas kitab tersebut untuk memudahkan pembaca, dengan judul Al-Wushul Ila Ghardhil Mathlub min Jawahiril Qtubil Qulub.
Menurut Abu Thalib, tasawuf hanya dapat ditegakkan jika dasar-dasarnya kuat, yaitu jalan yang benar dalam berkehendak dan berilmu. Sementara untuk mencapai dasar-dasar tersebut diperlukan tujuh macam piranti: Pertama, kehendak yang benar dan konsekwen, serta siap dengan segala resiko. Kedua, membina kehidupan bertaqwa dengan menolak keburukan dan kemaksiatan. Ketiga, memiliki pengetahuan mengenai keadaan diri, dan mengetahui kelemahan-kelemahannya.
Keempat, selalu mengikuti forum untuk mengenal dan mengingat Allah SWT. Kelima, memperbanyak tobat Nasuha, memotong jalur dosa dan menggantinya dengan jalur pahala, dengan cara merasakan kelezatan taqwa dan memperkuat kehidupan zuhud. Keenam, makan makanan yang halal dan mengetahui hukum-hukum makanan, pakaian dan sebagainya sebagaimana telah diatur oleh syara’. Ketujuh, selalu dekat dengan teman akrab yang saleh dan mampu memantau kehidupan taqwa sejati.
Abu Thalib menambahkan, ada empat tiang penyanggah yang memperkuat kehidupan para sufi: Pertama, kehidupan yang dibina dalam keadaan lapar, untuk memutuskan jalan darah setan yang bersarang di hati. Dengan lapar hati tidak dipenuhi darah, sehingga menajdi putih dan memancarkan Nur. Selain itu juga jadi lembut, karena lapar adalah kunci pembuka pintu zuhud, dan zuhud adalah pembuka pintu akherat.
Kedua, banyak terjaga di waktu malam untuk beribadah. Ketiga, memperbanyak diam sebagai jalan keselamatan dan kewaspadaan. Kehidupan sufi selalu memperhatikan apa yang keluar dari lisan. Keempat, bersunyi diri untuk berdzikir atau berkhalwat agar lebih berkonsentrasi dalam menjernihkan hati dan menyerap rahmat Allah SWT. Sebab, hati merupakan perbendaharaan Allah SWT yang tersembunyi. Jika iman telah menghunjam dalam hati, yang tinggal adalah cinta akherat. Dan itulah, “Hatinya hati”.
Sumber Kisah dari Alkisah Nomor 13 / 20 Juni-3 Juli 2005

Ma’ruf Al-Kharqi, Sufi yang Bertamu di Arasy

Ia mabuk cinta akan Dzat Ilahi. Konon, Allah mengkuinya sebagai manusia yang mabuk cinta kepada-Nya. Kebesarannya diakui berbagai golongan

Nama sufi ini tidak terlalu populer, meski sama-sama berasal dari Irak, namanya tak sepopuleh Syekh Abdul Qadir Jailani, Manshur Al-Hallaj, atau Junaid Al-Baghdadi. Dialah Ma’ruf Al-Kharqi, salah seorang sufi penggagas paham cinta dalam dunia Tasawuf yang jiwanya selalu diselimuti rasa rindu yang luar biasa kepada sang Khalik. Tak salah jika ia menjadi panutan generasi sufi sesudahnya. Banyak sufi besar seperti Sarry Al-Saqaty, yang terpengaruh gagasan-gagasannya. Ia juga diangap sebagai salah seorang sufi penerus Rabi’ah Al-Adawiyah sang pelopor mazhab Cinta.
Nama lengkapnya Abu Mahfudz Ma’ruf bin Firus Al-Karkhi. Meski lama menetap di Baghdad, Irak, ia sesungguhnya berasal dari Persia, Iran. Hidup  di zaman kejayaan Khalifah Harun Al-Rasyid dinasti Abbasiyah. tak seorangpun menemukan tanggal lahirnya. Perhatikan komentar Sarry As-Saqaty, salah seorang muridnya. “Aku pernah bermimpi melihat Al-Kharqi bertamu di Arasy, waktu itu Allah bertanya kepada Malaikat, siapakah dia? Malaikat menjawab, “Engkau lebih mengetahui wahai Allah,” maka Allah SWT berfirman, dia adalah Ma’ruf Al-Kharqi, yang sedang mabuk cinta kepadaku.”
Menurut Fariduddin Aththar, salah seorang sufi, dalam kitab Tadzkirul Awliya, orang tua Ma’ruf adalah seorang penganut Nasrani. Suatu hari guru sekolahnya berkata, “Tuhan adalah yang ketiga dan yang bertiga,” tapi, Ma’ruf membantah, “Tidak! Tuhan itu Allah, yang Esa.
Mendengar jawaban itu, sang guru memukulnya, tapi Ma’ruf tetap dengan pendiriannya. Ketika dipukuli habis-habisan oleh gurunya, Ma’ruf melarikan diri.
Karena tak seorang pun mengetahui kemana ia pergi, orang tua Ma’ruf berkata, “Asalkan ia mau pulang, agama apapun yang dianutnya akan kami anut pula.” Ternyata Ma’ruf menghadap Ali bin Musa  bin Reza, seorang ulama yang membimbingnya dalam Islam.
Tak beberapa lama, Ma’ruf pun pulang. Ia mengetuk pintu. “Siapakah itu” tanya orang tuanya. “Ma’ruf,” jawabnya. “agama apa yang engkau anut?” tanya orang tuanya. “Agama Muhammad, Rasulullah,” jawab Ma’ruf. Mendengar jawaban itu, orang tuanya pun memeluk Islam.
Cinta  Ilahiah
Salah seorang gurunya yang terkenal adalah Daud A-Tsani, ia membimbing dengan disiplin kesufian yang keras, sehingga mampu menjalankan ajaran agama dengan semangat luar biasa. Ia dipandang sebagai salah seorang yang berjasa dalam meletakkan dasar-dasar ilmu tasawuf dan mengembangkan paham cinta Ilahiah.
Menurut Ma’ruf, rasa cinta kepada Allah SWT tidak dapat timbul melalui belajar, melainkan semata-mata karena karunia Allah SWT. Jika sebelumnya ajaran taawuf bertujuan membebaskan diri dari siksa akhirat, bagi Ma’ruf merupakan sarana untuk memperoleh makrifat (pengenalan) akan Allah SWT. Tak salah jika menurut Sufi Taftazani, adalah Ma’ruf Al-Kharqi yang pertama kali memperkenalkan makrifat dalam ajaran tasawuf, bahkan dialah yang mendifinisikan pengertian tasawuf. Menurutnya, Tasawuf ialah sikap zuhud, tapi tetap berdasarkan Syariat.
Masih menurut Ma’ruf, seorang Sufi adalah tamu Tuhan di dunia. Ia berhak mendapatkan sesuatu yang layak didapatkan oleh seorang tamu, tapi sekali-kali tidak berhak mengemukakan kehendak yang didambakannya. Cinta itu pemberian Tuhan, sementara ajaran sufi berusaha mengetahui yang benar dan menolak yang salah. Maksudnya, seorang sufi berhak menerima pemberian Tuhan, seperti Karomah, namun tidak berhak meminta. Sebab hal itu datang dari Tuhan – yang lazimnya sesuai dengan tingkat ketaqwaan seseorang kepada Allah SWT.
Gambaran tentang Ma’ruf diungkapkan oleh seorang sahabatnya sesama sufi, Muhammad Manshur Al-Thusi, katanya, “Kulihat ada goresan bekas luka di wajahnya. Aku bertanya: kemarin aku bersamamu tapi tidak terlihat olehku bekas luka. Bekas apakah ini?” Ma’ruf pun menjawab, “Jangan hiraukan segala sesuatu yang bukan urusanmu. Tanyakan hal-hal yang berfaedah bagimu.”
Tapi Manshur terus mendesak. “Demi Allah, jelaskan kepadaku,” maka Ma’ruf pun menjawab. “Kemarin malam aku berdoa semoga aku dapat ke Mekah dan bertawaf mengelilingi Ka’bah. Doaku itu terkabul, ketika hendak minum air di sumur Zamzam, aku tergelincir, dan mukaku terbentur sehingga wajahku lukan.”
Pada suatu hari Ma’ruf berjalan bersama-sama muridnya, dan bertemu dengan serombongan anak muda yang sedang menuju ke Sungai Tigris. Disepanjang perjalanan anak muda itu bernyanyi sambil mabuk. Para murid Ma’ruf mendesak agar gurunya berdoa kepada Allah sehingga anak-anak muda mendapat balasan setimpal. Maka Ma’ruf pun menyuruh murid-muridnya menengadahkan tangan lalu ia berdoa, “Ya Allah, sebagaimana engkau telah memberikan kepada mereka kebahagiaan di dunia, berikan pula kepada mereka kebahagiaan di akherat nanti.” Tentu saja murid-muridnya tidak mengerti. “Tunggulah sebentar, kalian akan mengetahui rahasianya,” ujar Ma’ruf.
Beberapa saat kemudian, ketika para pemuda itu melihat ke arah Syekh Ma’ruf, mereka segera memecahkan botol-botol anggur yang sedang mereka minum, dengan gemetar mereka menjatuhkan diri di depan Ma’ruf dan bertobat. Lalu kata Syekh Ma’ruf kepada muridnya, “Kalian saksikan, betapa doa kalian dikabulkan tanpa membenamkan dan mencelakakan seorang pun pun juga.”
Ma’ruf mempunyai seorang paman yang menjadi Gubernur. Suatu hari sang Gubernur melihat Ma’ruf sedang makan Roti, bergantian dengan seekor Anjing. Menyaksikan itu pamannya berseru, “Tidakkah engkau malu makan roti bersama seekor Anjing?” maka sahut sang kemenakan, “Justru karena punya rasa malulah aku memberikan sepotong roti  kepada yang miskin.” Kemudian ia menengadahkan kepala dan memanggil seekor burung, beberapa saat kemudian, seekor burung menukik dan hinggap di tangan Ma’ruf. Lalu katanya kepada sang paman, “Jika seseorang malu kepada Allah SWT, segala sesuatu akan malu pada dirinya.”  Mendengar itu, pamannya terdiam, tak dapat berkata apa-apa.
Suatu hari beberapa orang syiah mendombrak pintu rumah gurunya, Ali bin Musa bin Reza, dan menyerang Ma’ruf hingga tulang rusuknya patah. Ma’ruf tergelatak dengan luka cukup parah, melihat itu, muridnya, Sarry al-Saqati berujar, “Sampaikan wasiatmu yang terakhir,” maka Ma’ruf pun berwasiat. “Apabila aku mati, lepaskanlah pakaianku, dan sedekahkanlah, aku ingin mneinggalkan dunia ini dalam keadaan telanjang seperti ketika dilahirkan dari rahim ibuku.”
Sarri as-Saqathi meriwayatkan kisah: Pada suatu hari perayaan aku melihat ma’ruf tengah memunguti biji-biji kurma.
“Apa yang sedang engkau lakukan?” tanyaku.
Ia menjawab, “Aku melihat seorang anak menangis. Aku bertanya, “Mengapa engkau menangis?” ia menjawab. “Aku adalah seorang anak yatim piatu. Aku tidak memiliki ayah dan ibu. Anak-anak yang lain memdapat baju-baju baru, sedangkan aku tidak. Mereka juga dapat kacang, sedangkan aku tidak,” lalu akupun memunguti biji-biji kurma ini. Aku akan menjualnya, hasilnya akan aku belikan kacang untuk anak itu, agar ia dapat kembali riang dan bermain bersama anak-anak lain.”
“Biarkan aku yang mengurusnya,” kataku.
Akupun membawa anak itu, membelikannya kacang dan pakaian. Ia terlihat sangat gembira. Tiba-tiba aku merasakan seberkas sinar menerangi hatiku. Dan sejak saat itu, akupun berubah.
# # # #
Suatu hari Ma’ruf batal wudu. Ia pun segera bertayammum.
Orang-orang yang melihatnya bertanya, “Itu sungai Tigris, mengapa engkau bertayammum?”
Ma’ruf menjawab, “Aku takut keburu mati sebelum sempat mencapai sungai itu.”
Ketika Ma’ruf wafat, banyak  orang dari berbagai golongan datang bertakziyah, Islam, Nasrani, Yahudi. Dan ketika jenazahnya akan diangkat, para sahabatnya membaca wasiat almarhum: “Jika ada kaum yang dapat mengangkat peti matiku, aku adalah salah seorang diantara mereka.” Kemudian orang Nasrani dan Yahudi maju, namun mereka tak kuasa mengangkatnya. Ketika tiba giliran orang-orang muslim, mereka berhasil, lalu mereka menyalatkan dan menguburkan jenazahnya.
Sumber Kisah: Alkisah Nomor 25 / 6-19 Desember 2004

Al-Hujwiri, Kisah Penyingkap Pintu Makrifat

Namanya tidak asing dalam dunia sufi. Dialah sufi pertama yang mengarang kitab tentang sufisme dalam Bahasa Persia.
Bagi para penganut sufi, pengamat, dan para intelektual, kitab Kasyful Mahjub, sudah tidak asing lagi. Kitab itu disejajarkan dengan kitab-kitab besar kaum sufi lainnya. Seperti Kitab Al-Risalah karya Al-Qusyairi dan Tadzkirul Awliya, karya Fariduddin Aththar. Bahkan kitab Kasyful Mahjub tercatat sebagai kitab sufi yang pertama kali di tulis dalam bahasa Persia. Kitab tersebut berisi berbagai pandangan tentang mistik Islam dan riwayat hidup singkat para sufi, dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia.

Nama lengkapnya adalah Abu Hasan Ali bin Usman bin al-Ghaznawi al-Jullabi al-Hujwiri. Ulama ini lahir di Ghaznah, Persia (Iran), pada abad ke 5 H / 11 M. di zaman sekarang, Ghaznah termasuk wilayah Afganistan. Pengarang Tadzkirul Awliya, Fariduddin Aththar, diduga banyak mengutip beberapa riwayat hidup para sufi dari kitab Kasyful Mahjub. Misalnya dalam bab II yang menyebut nama Al-Hujwiri. Tapi menurut pengamat dunia sufi, AJ. Arberry, banyak bagian kitab Tadzkirul Awliya merupakan kutipan dari kitab Kasyful Mahjub tanpa menyebutkan sumber. Meski begitu, sufi Persia, Nawab Jan Fishari Khan, menyebut al-Hujwiri sebagai “Juru Penerang” dalam salah satu puisinya.
Sementara menurut pengamat sufi yang lain, Annemarie Schimmel, Kasyful Mahjub termasuk satu di antara beberapa kitab yang sahih  dan terkenal, sebagai monumen Persia awal, dengan daya ungkap yang kuat. Schimmel justru mencatat sejumlah besar keterangan mengenai dunia sufi yang menarik dalam kitab ini.

Tidak Banyak yang Menulis


kashfulmahjubSeperti halnya banyak sufi besar, riwayat Al-Hujwiri tidak ada yang menulis. Kalaupun sekarang bisa dijumpai sekelumit biografinya hal itu tidak lebih berkat adanya beberapa catatan tentang sang pengarang dalam kitab Kasyful Mahjub. Dari sana pula diketahui bahwa Al-Hujwiri pernah berguru kepada Abul Abbas Al-Syaqani, kemudian Abu Fadhl Muhammad bin Hasan Al-Khuttali dan Abu Al-Qasim Al-Jurjani (W. 1059) serta Khwaja Al-Muzaffar Ahmad bin Hamdan. Terungkap pula ia pernah berjumpa dengan Imam Al-Qusyairi.
Masa kecil dan remajanya dihabiskan untuk menuntut ilmu, terutama di kota kelahirannya, Ghaznah. Untuk menuntut ilmu, ia melanjutkan perjalanannya ke berbagai kota, di Irak, Khurasan di Timur Tengah, Kurdistan dan Azarbaijan, Jurjan, Samarkand, Uskand, Marwi di Asia Tengah, hingga Lahore di India. Pengembaraannya berakhir setelah berkunjung untuk kedua kalinya ke Lahore, dan menetap selama kurang lebih empat tahun.

Ketika itulah ia merasa bertanggung jawab atas penegakan Syariat Islam dan meningkatkan pengetahuan kaum muslimin. Maka ia pun mengajar dan berdakwah, hingga dikenal sebagai seorang ulama yang berpengaruh. Ia termasuk sedikit dari para ulama yang pertama kali merintis dakwah Islam di India, khususnya di Lahore dan sekitarnya.
Ketika pasukan Hindu menyerang Lahore pada tahun 435 H, Al-Hujwiri termasuk di antara ribuan orang muslim yang ditawan. Tak lama kemudian pasukan muslim dari Ghaznah membebaskan para tawanan, dan Al-Hujwiri pun pindah ke Ghaznah lalu ke Khurasan. Tapi tak lama kemudian ia kembali lagi ke Lahore hingga wafat pada 1073 M / 465 H.

Wawasan yang Sangat Luas

Mengembara menuntut ilmu, dan bertemu dengan berbagai ulama dan intelektual, memberikan wawasan tersendiri dalam pemikiran Al-Hujwiri. Apalagi ia juga sangat rajin membaca berbagai literatur selama dalam pengembaraan, hingga wawasan pemikirannya sangat luas. Tidak keliru jika para ahli menyebut Al-Hujwiri sebagai salah seorang ulama besar dalam dunia tasawuf.
Ia juga dikenal sebagai seorang penulis yang tergolong produktif. Dalam bukunya Kasyful Mahjub, disebutkan beberapa karyanya yang berjumlah sepuluh buah, antara lain: Diwan Minhaj Al-Din (kajian aturan agama), karya ini menyajikan keterangan metode tasawuf, keterangan terperinci tentang para pengamal tarekat, serta biografi lengkapa Al-Hallaj.
Kemudian Asrar Al-Khiraq al-Mulawwanat (rahasia baju compang-camping) yang memuat pembahasan pakaian para sufi. Fana-U Baqa (kehancuran yang kekal), kitab Al-Bayan li Ahl al-Iyan (kitab penjelasan untuk ahli hakekat) yang berisi konsep penyatuan dengan Tuhan, Bahr al-Qulub (samudra hati), berisi kajian tentang masalah hati yang sangat lengkap, Al-Riayat al-Huquq Allah (menjaga hak-hak Allah) berisi tentang keesaan Allah SWT dan karya yang sangat populer, Al-Kasyful Mahjub (ungkapan yang tersembunyi)
Adapun dua buku yang isinya tentang keimanan dan ungkapan-ungkapan Al-Hallaj tidak di ketahui judulnya, bahkan mungkin belum sempat diberinya judul. Sebagian karangan Al-Hujwiri telah hilang pada masa hidup sang pengarang , selain Kasyful Mahjub, yang terjaga rapi di tangan murid-muridnya.
Menurut cerita murid-muridnya, pernah Al-Hujwiri menyesal meminjamkan dua buku karyanya kepada seseorang yang kemudian tidak mengembalikannya. Tetapi kedua karya tersebut kemudian muncul dan disebarkan kepada khalayak dengan nama pengarang yang telah diganti, yaitu nama si peminjam buku tersebut. Barangkali dari pengalaman itu Al-Hujwiri lantas berusaha menyelipkan namanya pada sejumlah bagian dalam karya-karyanya, yang bisa dilihat dalam kitab Kasyful Mahjub.
Kitab Kasyful Mahjub, di mata para pengamat mempunyai beberpa kelabihan. Diantaranya menguraikan dengan tajam dua belas aliran tasawuf yang berkembang pada saat itu. Mengungkapkan beberapa persoalan tasawuf yang sangat berat seperti Makrifat dan sebagainya. Tidak ketinggalan uraian yang sangat mendalam tentang beberapa aliran tasawuf sehingga mempermudah kita untuk mempelajarinya.
Ada beberpa pandangan tentang tasawuf. Dalam buku Kisah Perjalanan Hidup Para Tokoh Sufi karangan Ustad Labib Mz. Ditulis beberapa buah pemikirannya sebagai berikut:
  • Pertama, Ilmu-ilmu Tauhid, fikih, tasawuf, serta pengalaman spritual dalam satu kesatuan yang utuh, konsekwen dan sesuai dengan aturan syariat, adalah ajaran Islam yang benar.
  • Kedua, bagaimana pun tingginya seorang tokoh sufi, tetap saja mempunyai kewajiban agama seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat sesuai dengan aturan Al-Qur’an dan hadis. Ketiga, mazhab-mazhab tidak hanya ada dalam ilmu fikih, tetapi juga ada dalam ilmu tasawuf.
Sebagai salah seorang pengikut Ahlussunnah, Al-Hujwiri dikenal sebagai ulama yang berusaha mendamaikan Tasawuf , fikih dan teologi. Ia berulang kali mengingatkan. Tidak ada sufi, termasuk yang telah mencapai tingkat tinggi, bebas dari kewajiban syariat, atau mentaati hukum-hukum agama.
Ia menegaskan, ada keterkaitan erat antara syariat dan hakekat. Menurutnya syariat tanpa hakekat tidak membuahkan apa-apa. Sedangkan hakekat tanpa syariat, hanya membuahkan kemunafikan.. sebuah upaya dan semangat yang kemudian di teruskan oleh Imam Ghazali.
Al-Hujwiri membagi orang-orang tasawuf menjadi tiga golongan. Yaitu, Sufi, Mutasawwif, dan Mutashwif. Sufi adalah orang yang sudah fana (lenyap) dari dirinya, Baqa (abadi) bersama Al-Haq, bebas dari genggaman tabiat dan mencapai hakekat dari segala hakekat. Mutashawwif, adalah orang yang sedang berjuang keras untuk mencapai derajat sufi. Adapun Mutashwif adalah orang yang berpura-pura seperti sufi tetapi dengan kepentingan duniawi.
Sumber Kisah Alkisah Nomor 04 / 14-27 Feb 2005