Rabu, 14 April 2010

UWAIS AL - QARNI

UWAIS AL - QARNI

Uwais Al-Qarni adalah salah seorang sufi yang dilahirkan di Desa Qaran, dekat Nejed. Para ahli sejarah tidak menceritakan kapan beliau dilahirkan.

Sejak kecil Uwais hidup dalam kehidupan taat beribadah.beliau tidak pernah mengenyam pendidikan maupun dipesantren, beliau hanya memproleh pendidikan dari orang tuanya, sendiri.

Sebagai seorang anak yang patuh kepada orang tuanya, Uwais giat bekerja sebagai pengembala dan waktunya dihabiskan untuk mengembala hewan –hewan, sehingga dirinya tidak banyak dikenal oleh orang lain, kecuali pengembala, dan orang – orang disekitarnya.

Uwais Al-Qarni memiliki banyak sekali keistimewaan yang membuat dia sangat dicintai oleh Rasulullah, sehingga Rasulullah berkenan untuk memerintahkan Umar bin Khathab dan Ali bin Abi Thalib untuk menemui Uwais Al Qarni dan menyampaikan salam darinya.

Ketika sahabat Rasulullah itu berhasil menemui Uwais, maka mereka sampaikan salam dari Rasulullah. Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib untuk minta di Do’akan oleh Uwais Al-Qarni dan meminta pelajaran. Uwais Al Qarni mengatakan agar mencari rahmat Allah dengan taat dan mengikuti dengan penuh pengharapan dan takutlah kepada Allah SWT.

Saat kedua sahabat berpamitan pulang mereka memberikan seperangkat pakaian dan sejumlah uang. Namun Uwais bukanlah Uwais, jika dia menerima pemberian tersebut, bahkan dia mengatakan, terima kasih wahai Amirul Mukminin, kami tidak menolak dan tidak membutuhkan apa yang tuan bawa. Upah yang saya terima sebanyak 4 dirham itu sangat berlebihan sehingga sisanya bisa saya berikan pada Ibu.”

Sehari-hari aku hanya makan buah kurma dan minumair putih dan belum pernah makan makanan yang dimasak. Kurasakan hidup ini seolah-olah tidak sampai pada petang hari dan kalau petang hariaku tidak merasa sampai pagi, hatiku selalu mengingat Allah dan aku sangat kecewa kalau sampai tidak mengingatnya.
Begitulah kehidupan Uwais Al Qarni penuh dengan kezuhudan dan kerendahan hati. Beliau sangat sederhana, setiap hari selalu dalam keadaan lapardan hanya punya pakain yang melekat ditubuhnya, dalam kesederhanaannya itu ia selalu berdo’a, “ Ya Allah , “ janganlah engkau siksa aku karena ada yang mati kelaparan dan janganlah engkasu siksa aku karena ada yang kedinginan.

Begitu perhatiannya kepada orang-orang yang ada disekitarnya, sehingga walaupun Rasulullah belum bertemu dengannya tetapi rohani Uwais Al Qarni selalu berhubungan dengan Rasuulullah dan Rasulullah bersabda, “ pada hari kiamat nanti dimana semua manusia akan dibangkitkan kembali, Uwais Al Qarni akan memberikan syafaat kepada sejumlah manusia sebanyak domba yang dimilikinya Robiah dan Mundhar. “

Waqlaupun Uwais setiap hari selalu menyendiri dan tidak pernah berkumpul dengan orang lain, namun pada saat – saat tertentu seperti ketika ada panggilan perang jihad beliau ikut ke medan perang. Ketika terjadi perang Shiffin antara golongan Ali dan Muawiyyah, dia berada pada golongan Ali bin Abi Thalib.

Rahmat Mulyadi. Taman Bima Permai Blok A 11 Cirbon jabar

SYEKH RAJAB ALI : SANG SUFI MODERN YANG PENUH KAROMAH

HANYA ORANG-ORANG YANG TELAH MENCAPAI MAQOM TERTENTU YANG DAPAT BERTEMU, BAHKAN BERGURU PADA IMAM MAHDI. SYEKH RAJAB ALI ADALAH SALAH SEORANG YANG MENDAPAT ANUGRAH UNTIK BERGURU PADA IMAM MAHDI. ITULAH SALAHSATU KAROMAH BESARNYA

SYEKH RAJAB ALI Adalah salah seorang sufi yang berasal dari negri ( Iran ). Dia dilahirkan di Teheran pada tahun ( 1883 M ). Dia seorang sufi yang hidup di abad Modern, ketika godaan-godaan dunia lebih banyak daripada Sufi-sufi yang hidup pada ratusan tahun yang lampau. “

Kendati sentuhan kehidupan Modern sudah begitu hebat di sekelilingnya, namun rumah syekh rajab sangat sederhana, hanya terbuat dari tanah liat yang dibakar. Karena itulah, pada saat hujan turun, maka atap-atap rumahnya pada bocor.

Pernah seorang jendral menawarkan kepada belaiu untuk di belikan tanah dan akan dibangun untuk Syekh Rajab Ali. Tetapi tawaran ini di tolak olehnya, dia hanya mengucapkan terima kasih sambil bersyukur kepada illahi.

Syekh Rajab Ali adalah sufi yang mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW. Dan Ahlul Bait dalam mencintai Allah. Tidak pernah meninggalkan keluarga dan kaum Muslim.
Nabi dan Ahlul Baitnya tetap mencari nafkah dengan berdagang dan brtani walaupun sebenarnya sebagai Insan Kamil ( Manusia yang paling sempurna ) apa yang di inginkannya cukup diucapkan, maka menjadi terwujud keinginannya tersebut kehendak Allah.

Tak hanya itu, Syekh Rajab Ali juga selalu menolong masyarakat, bersosial dan membuat karya yang dapat bermanfaat bagi kaum muslimin.

Hal tesebutlah yang membedakan Syekh Rajab Ali dari Sufi-sufi lainnya. Pada umumnya para sufi akan melakukan kehidupan zuhud dengan meninggalkan keluarganya, meninggalkan masyarakat, tidak berpolitik, tidak mencari nafkah dan tidak bersosialisasi
dengan baik. Mereka terkesan menyendiri bersama kelompoknya. Mereka menganggap mencintai keluarga, mencari nafkah, berpolitik, dsb, dapat menghalanginya untuk mencintai Allah secara hakiki.

Hal tersebut dianggap jelas melanggar aturan-aturan yang dijalankan Nabi SAW. Dan Ahlul Baitnya. Padahal, kaum sufi itu adalah panutan dan sufi tauladan bagi kita semua kaum muslimin dalam segala hal, karena merekalah para kekasih Allah, sebab merekalah yang mampu mencintai Allah secara hakiki, dan Allah pun mencintai mereka, sehingga mereka mencapai maqom tertinggi manusia sebagai insan kamil. Namun, mengapa mereka harus meninggalakan keluarga, lingkungan, dan tak berbuat apa-apa untuk masyarakat, kecuali untuk diri mereka dan kelompok mereka sendiri ? “

Oleh karena itu, Syekh Rajab Ali, sangat mengecam para sufi yang melakukan perbuatan-perbuatan ekstrim tersebut. Menurutnya, untuk mencintai Allah secara hakiki harus sesuai dengan aturan-aturan Islam, seperti kewajiban memberi nafka lahir batin kepada keluarganya, berpolitik dan sebagainya.

Seseorang sufi yang mencintai kekasihnya apa yang di ucapkan atau permintaan, pasti dituruti oleh orang yang dicintainya. Untuk mencintai Allah, maka segala perintahnya harus dituruti apalagi aturan tersebut adalah sebuah kewajiban bagi kaum muslimin.

Menurut Syekh Rajab Ali, segala amal dan perbuatan harus karena Allah SWT, sebab itu hanya akan menghambat dia untuk mencapai maqom tertinggi dalam mencintai Allah, padahal dengan mencapai maqom ini dia akan” terpesona” hanya kepada Allah saja.

Syekh Rajab Ali mempunyai mata pencaharian sebagai penjahit. Dengan mata pencaharian ini dia membesarkan anak-anaknya dan memberi kehidupan bagi keluarganya. Walaupun hanya seorang penjahit dan dalam kehidupan sederhana, dia terkenal sebagai seorang dermawan dan suka menolong tetangga dan orang lain yang dalam kesusahan, terutama dalam soal ekonomi walaupun dirinya dalam kesulitan ekonomo pula.

Pernah suatu ketika Syekh Rajab Ali pergi ke gunung Syarh banu bersama putranya. Diperjalanan mereka berjumpa dengan seorang sufi yang konon telah memperaktekan kezuhudannya hingga dia memiliki kemampuan yang dikagumi oleh masyarakat.

Syekh bertanya, “ Sejauh ini apa yang telah engkau hasilkan dari peraktek zuhudmu ? “

Sufi itu membungkuk dan mengambil sebongkah batu dan mengubahnya menjadi buah pir. Setelah itu, diberikan kepada syekh Rajab Ali.

Syekh Rajab Ali lalu berkata, “ Bagus, engkau telah melakukannya untuku. Sekarang katakan pada saya, apa yang engkau lakukan untuk Allah ? apa yang telah engkau lakukan untukNya ?

Mendengar ini, sufi itupun menangis tersedu-sedu.

Pernah pula dipadang karbala di negri Iraq, lewat sekelompok aliran tarekat didepan Syekh Rajab Ali dan sahabatnya.

Tarekat ini berpaham sangat ekstrim yaitu meninggalakn aturan islam yang dianggap dapat menghalangi untuk mencintai Allah. Syekh Rajab Ali bercerita kepada sahabatnya bahwa pimpinan tarekat tersebut sedang dikendalikan oleh Syetan, ibarat seekor kuda yang dikendalikan oleh penunggangnya.

Yang pasti, Syekh Rajab Ali tidak pernah meninggalkan kehidupan dunia, meski dia menyebut dunia sebagai, “ wanita tua yang jelek, “ yang dikutifnya dari sebuah hadits Nabi.

Banyak karomah-karomah yang dimiliki Syekh Rajab Ali, di antaranya adalah :

1 . dapat membaca hati orang

salah seorang muridnya berkisah bahwa, suatu malam dia tiba dimajelis yang dipimpin oleh Syekh Rajab Ali. Ketika itu dia memandang salah seorang hadirin yang jenggotnya telah dicukur.

Hati saya serasa gelisah dan sedih, mengapa orang itu mencukur jenggotnya, “ kata orang ini dalam hati.

Syekh yang berada dibelakangnyadan menghadap kiblat, tiba-tiba dia menghentikan do’anya dan berkata, ‘ jenggotnya tidak memperdulikanmu. Lihatlah seperti perbuatannya. Dia mungkin memiliki kebaikan yang mungkin engkau tidak memiliki, “

Sementara itu, seorang pelayan Syekh pernah berkisah, pernah saya meninggalakan rumah untuk mengunjungi Syekh. Diperjalanan, secara tidak sengaja, saya melihat wanita cantik yang menarik perhatian saya. Ketika sampai dirumah Syekh, dan duduk disampingnya, dia melirik saya dan berkata, “ apa yang saya lihat dalam dirimu ?”

Saya membantin, “ Ya Sattar Al Uyub ( Wahai yang menutup aib ),”

Syekh lalu tersenyum dan berkata, “ apa yang telah engkau lakukan sekarang apa yang saya luhat menghilang ?

2 . dapat melihat api dalam sesuatu yang haram

dalam sebuah pertemuan, seseorang memperaktekan ilmu suhir, dan waktu itu salah seorang putra Syekh hadir di pertemuan tersebut. Putra Syekh dengan kemampuan priritualnya berusaha menghalangi peraktek sihir tersebut, sehingga penyihir tersebut selalu mengalami kegagalan.

Akhirnya penyihir itu tahu bahwa putra Syekh Rajab Ali tersebut menghalangi peraktik sihirnya dan memohon kepadanya agar tidak mengganggu mata pencahariannya tersebut.

Lalu penyihir tersebut memberikan hadiah kepada putra Syekh Rajab Ali dengan sebuah karpet mahal. Oleh putra Syekh, krpet itu dibawa pulang. Begitu syekh Rajab Ali melihat, maka dia berkata, “ Siapa yang memberikan permadani kepadamu ? saya melihat api dan asap keluar darinya. Kembalikan permadani tersebut kepada pemiliknya sekarang juga ! “
Maka putra Syekh segera mengembalikan permadani tersebut.-

3 . dapat mengetahui do’a yang dikabulkan oleh Allah SWT.

Dikisahkan bahwa Syekh Rajab Ali dan kawannya mengadakan perjalanan ke kota Masyhad di Iran. Di makam suci Imam Ar Ridho ra ( salah seorang ahlul Bait Nabi SAW keturunan Imam Ali dan Fatimah ),

Mereka melihat seorang pemuda menangis dan sedang bertawasul kepada Imam Ar Ridho ra, agar doa’nya terkabul oleh Allah SWT.

Syekh Rajab Ali memerintahkan kawannya untuk memberitahukan kepada pemuda tersebut bahwa do’anya telah dikabulkan oleh Allah SWT. Dan pemuda tersebut berterima kasih kepada syekh Rajab Alai. “

Sangkawan bertanya kepada Syekh, apa yang terjadi kepada pemuda tersebut. Maka Syekh Rajab Ali menceritakan bahwa pemuda tersebut mencintai seorang gadis dan ingin menikahinya, tapi tak disetujui oleh orang tua gadis tersebut. Do’anya telah dikabulkan oleh Allah SWT. Sebagai bukti, pemuda itu disetujui oleh orang tua gadis tersebut untuk menikahi putrinya. Padahal Syekh Rajab Ali tidak pernah kenal sebelumnya, kecuali dimakam tersebut.”

4 . dapat melihat alam barzah

seorang sahabat berkisah, “ suatu ketika, saya berbincang-bincang dengan Syekh. Tiba-tiba, Syekh berkata, “ saya melihat seorang pemuda di alam Barzah yang berkata, “ engkau tidak tahu apa yang terjadi disini. Ketika engkau datang kesini engkau akan menemukan setiap Nafas yang engkau hirup bukan karena Allah SWT. Berahir dengan kerugian.”

5 . Gramofon yang terbakar

putra Syekh berkata,” Ayah dan saya pergi untuk menghadiri acara pernikahan dari salah seorang kerabat kami. Ketika tuan rumah melihat kedatangan ayah, dia memerintahkan anak-anak muda untuk mematikan Gramofon.
Anak-anak muda itupun ingin melihat siapa yang datang sehingga mereka dilarang menyetel musik yang pada saat itu menggunakan alat Gramofon. Anak-anak muda itu pun memandang rendah Syekh Rajab Ali, bahkan kemudian menyetel kembali Gramofon tersebut.
“ Waktu itu ayah langsung mengajak pulang saya untuk meninggalkan acara tersebut. Belakangan yang saya dengar Gramofon itu hancur tampa sebab. Lalu anak =-anak muda mengambil Gramofon yang lain, tetapi lagi-lagi ada kejadian aneh, Gramofon tersebut terbakar tampa sebab. Peristiwa tersebut menjadikan tuan rumah tobat dan menjadi murid ayah.”

6 . bicara dengan tumbuhan

salah seorang murid syekh mengutip pernyataan beliau,” tumbuhan itu hidup juga dan mereka bicara. Saya berbicara dengan mereka dan mereka memberi tahukan kepada saya tentang apa yang mereka miliki.”

7 . bicara dengan hewan

seorang tukang jagal datang kepada Syekh dan berkata ; “ anak saya sedang sekarat sekarang. Apa yang harus saya lakukan ? “
Syekh berkata, “ engkau telah menyembelih seekor sapi di depan ibunya,”

Tukang jagal meminta agar syekh dapat melakukan sesuatu untuknya. Syekh berkata, “ Ibu sapi itu berkata, “ tidak ! dia telah menyemblih anakku, maka anaknya harus mati.”

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “ janganlah menyembelih seekor biri-biri di sisi biri-biri lainnya dan seekor unta lainnya, sementara mereka melihat hewan-hewan itu disembelih,”
8 . berguru kepada Imam Mahdi

Imam Mahdi pada saat ini masih didalam kegaiban besarnya. Konon, dia akan muncul apabila waktunya telah tepat untuk memakmurkan seluruh dunia dan memenangkan Islam di atas dunia.
Hanya orang-orang yang telah mencapai maqom tertentu yang dapat bertemu, bahkan berguru pada Imam Mahdi. Syekh Rajab Ali adalah salah seorang yang dapat anugrah untuk berguru pada Imam Mahdi yaitu pada Zamannya.

ITULAH beberapa karomah yang dimiliki oleh Syekh Rajab Ali. Tokoh sufi ini wafat pada tanggal ( 13 September 1961 ). Dikisahkan, pada akhir hayatnya, Imam Mahdi datang menjenguknya. Namun hal ini hanya dapat diketahui oleh orang –orang tertentu saat itu hadir ketika detik-detik kewafatannya.

Dikisahkan pula, ketika Imam Mahdi datang, keadaan tubuh Syekh yang lemah dan tidak mampu banyak bergerak, tiba-tiba dia dapat duduk seketika dan sambil tersenyum dia berjabat tangan dengan seorang yang tidak nampak dan berkata, “ selamat datang guruku yang terhormat,”

Setelah itu Syekh Rajab Ali terbaring lagi. Dengan di iringi kalimat tauhid yang keluar dari bibirnya, dia pun meninggalkan dunia yang penuh kehinaan ini. Selamat jalan Syekh Rajab Ali. “

Rahmat Mulyadi Taman Bima Permai Blok A 11 Cirebon Jabar

TAUBATNTA SANG PENYAIR BERGAJUL DARI BAGHDAD

ABU Nawas dikenal sebagai sosok jenaka.
Siapakah dia yang sebenarnya?
Salah satu sumber sejarah menyebutkan
bahwa dia sesungguhnya seorang penyair
yang pernah hidup dengan hura-hura.

Siapa yang tidak kenal dengan Nama Abunawas, seorang penyair yang tekenal dan terkemuka di zamannya. Bahkan Abu Nawas sebenarnya lebih dikenal sebagai seorang sastrawan kondang yang nafas-nafas kehidupannya dia habiskan di Istana Harun Ar-Rasyi dengan segala kemewahan. Tapi adakah orang tahu latar belakang kehidupan Abu Nawas sebelumnya ?

Dalam catatan sejarah dia juga dikenal sebagai orang yang menganut paham Hedonisme, yakni faham yang mengutanakan kesenangan dunia semata-mata. Akan tetapi ketika setetes hidayah Allah turun kepadanya, dia menyesali segala dosa2 yang telah diperbuatnya dengan melakukan Tobatan Nasuha serta keinginan untuk menjalani kehidupan zuhud.

Abu Nawas atau sering juga disebut Abu Nuwas dilahirkan di kota Ahwaz, sekitar tahun ( 130-145 H / 747-762 M ). Dia adlah seorang penyair Arab ternashyur pada saat Khalifah Harun Ar-Rasyid ( 170-194 H / 786-809 ) dari dinasti Abbasiyah.

Nama lengkapnya ialah Abu Nawas Al-Hasan Bin Hani Al-Hakami. Ayahnya adalah seorang tentara bernama Marwan bin Muhammad, yang hidup di Zaman Khalifah terakhir dinasti Bani Ummayah di Damaskus. Sedangkan Ibunya barnama ( Jelleban ), adalah seorang wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kainWol.

Ketika masih kecil, ayah Abu Nawas meninggal dunia. Kemudian ibunya membawanya ke Basrah. Di sanalah dia belajar bahasa dan satra Arab dari dua ahli Bahasa Arab yang bernama ( Abu Zaid dan Abu Ubaidah ). Dan dia belajar hadist kepada ( Abdul Walid bin Ziyad, Mu;tamir bin Sulaiman, Yahya bin Sa’ad Al Qattan dan Azhar bin Sa’d Samman.

Menurut sejarah Abu Nawas juga belajar Al-Qur’an dari Ya’qub Al Hadrami.

Sejak kecil Abu Nawas dikenal sangat pandai merangkai kata – kata dan membuat Syair yang indah. Melihat bakat kepenyairannya yang dimiliki Abu Nawas ini, seorang penyair dari Kufah yang bernama ( Walibah bin Habab Al Asadi ) tertarik kepadanya. Walibah kemudian membawa Abu Nawas ke Ahwaz dan setelah itu ke Kufah.

Di Kufah Abu Nawas berkesempatan belajar kepenyairan Arab bernama Khalaf Al Akhmar, yang kemudian menyuruhnya pergi berdiam kepedalaman padang pasir bersama orang – orang Arab Badui untuk mendalami dan untuk memperhalus pengetahuan bahasa Arabnya selama satu tahun.
Setelah itu Abu Nawas pindah kebaghdad dan berkumpul dengan penyair – penyair di kota itu. Dia pun berhubungan dengan beberapa Amir dan mengubah puisi pujian bagi mereka.

Berita tentang kepandaiannya dalam berpuisi akhirnya sampai juga ke Istana Harun Ar-Rasyid. Kabar ini melalui seorang musikus Istana yang bernama ( Ishaq Al Mausuli ), nasib baik pun berpihak kepada Abu Nawas. Sejak Khalifah mendengar habar tentang keindahan syairnya, kemudian Abu Nawas di panggil untuk menjadi penyair Istana dengan tugas mengubah puisi pujian untuk Khalifah.

Pada suatu ketika Abu Nawas melantunkan puisi yang menghina kabilah Arab Mudar sehingga khalifah murka dan memenjarakannya. Setelah bebas dia berpaling dari khalifah dan mengabdi kepada pembesar Istana dari keluarga Barmak.

Abu Nawas meninggalkan Istana Baghdad setelah keluarga Barmak( Baramikha ) dibinasakan oleh Khalifah pada tahun ( 187 H / 803 M ). Kemudian dia pergi kemesir dan mengubah puisi untuk Gumenur Mesir yang bernama Khasib bin Abdul Hamid Al Ajami.

Setelah Harun Ar-Rasyid meninggal dunia, Abu Nawas kembali ke Baghdad dan menjadi penyair Istana bagi Khalifah Al-Amin. Puisi – puisi gubahan Abu Nawas terdiri atas beberapa tema seperti Pujian, Satire ( Hija’ ), kehidupan Zuhud ( Zuhdiyat ), perburuan binatang liar ( Tardiyat ) pengembaraan Khamar ( Khumrayat ), wanita dan cinta ( Gazaliyah ), lelucon dan sendagurau ( Mujuniyat )

Keterangan :

1 . Hija’----------Pujian
2 . Zuhdiyat-----Kehidupan Zuhud
3 . Tardiyat------Perburuan binatang liar
4 . Khumrayat---Pengembaraan Khamar
5 . Gazaliyah----Wanita dan Cinta
6 . Mujuniyat----Lelucon dan Sendagurau

kepenyairannya telah mempengaruhi jalan hidupnya. Walaupun sejak kecil dia telah mendapat pengajaran agama yang baik ternyata Abu Nawas tampil sebagai seorang penyair yang penuh “ Hura-Hura “

Puisi Mujuniyahnya kadangkala melampaui batas kesopanan dan merendahkan agama sehingga dia dicap sebagai penyair ( Fasik atau Zindik ). Sedangkan Puisi Khumrayatnya membuat dia dikenal sebagai “ penyair Khamar “
Karena dia yang pertama kali mengangkat Khamar, minuman haram sebagai tema dari puisinya. Dalam Khumrayat ini dia membeberkan kelezatan dan keburukan khamar, tentang buah anggur, pemerasannya dan pengolahannya, rasa khamar, warna dan baunya

serta para peminumnya yang manul.
Dia memperoleh hadist yang melarang minum khamar karena menurutnya khamar dapat menenangkan hati yang risau dan gundah, dan dapat bersenang – senang dengan wanita-wanita yang cantik yang menuangkan khamar ke dalam gelas.

Bahkan karena kepenyairan yang penuh “ Hura-hura “ itu, indahnya sering terpeleset, bahkan tidak segan – segan pula dia mempelesetkan ayat – ayat Al-Qur’an. Karena ulahnya itu, dia pernah diajukan ke pengadialan karena dituduh menghina Al Qur’an.
Salah satu bait syairnya yang dinilai menghujat Al Qur’an, adalah :
Biarlah mesjid-mesjid itu dipenuhi oleh orang-orang yang shalat.
Ayolah kita minum khamar sepuasnya Tuhan pun tak pernah mengatakan Neraka Wael bagi para pemabuk Tuhan hanya berfirman Neraka Wail bagi orang yang shalat. Dengan sikapnya yang keterlaluan itu,
Maka menimbulkan kemarahan umat. Abu Nawas dipandang melecehkan agama dan akan dijatuhi hukuman mati. Beruntunglah pada saat itu khalifah yang berkuasa adalah Harun Ar-Rasyid yang bijaksana. Khalifah memberikan Grasi dan kesempatan kepada abu Nawas untuk bertaubat.

Abu Nawas memang boleh dikatakan seorang penyair yang bergajul, namun pada akhirnya dia bertaubat dari segala dosa-dosanya. Dan dia mengaku secara tulus di hadapan Tuhan tentang dosa – dosa yang pernah ia lakukan. Bahkan menjelang akhir hayatnya dia mengubah puisi Zuhdiyat, mengungkapkan rasa penyesalan dan tobat atas kesalah dan dosa yang telah diperbuatnya serta keinginan untuk meninggalkan kesenagan dunia dan menjalani hidup Zuhud.

Adapun pengakuannya di senandungkan lewat sebuah syair berikut ini :
Oh, Tuhanku
Aku tak layak menjadi penghuni sorga
Tapi, aku tak tahan di Neraka jahim
Rerimalah tobatku dan ampunilah dosa-dosaku
Sebab engkaulah Maha Pengampun dari dosa-dosa besar
Tuhan, dosaku bagaikan bilangan pasir
Berilah aku kesempatan bertaubat wahai yang Maha Agung
Sementara umurku selalu berkurang setiap hari,
Malah dosaku terus bertambah,
Bagaimana aku menanggungnya ?
Tuhanku,
HambaMu yang penuh dosa kini telah datang padaMu
Mengakui dosa-dosanya dan memanggil namaMu
Jika engkau ampuni, dan memang Engkau berhak mengmpuninya
Sekiranya Engkau tidak,
Siapa lagi yang kami harap selain Engkau? “

Itulah lantunan syair Abu Nawas dalam pengakuannya terhadap segenap dosa yang pernah dengan sengaja dia lakukan suatu pengakuan yang benar-benar keluar dari lubuk hati yang paling dalam serta suatu penyesalan yang benar-benar tumbuh dari hati yang

sadar akan kelalaiannya.
Abu Nawas wafat di Baghdad dan tahun meninggalnya yang mengatakan pada tahun ( 190 H / 806 M, 195 H / 810 M, 196 H / 811 M, 198 H / 813 M, dan 199 H / 814 M ),

Sedangkan menurut versi yang lain mengatakan dia meninggal akibat dianiaya oleh orang – orang ruruhan Bani Nawbakht yaang menaruh demdam kepadanya.

Sementara itu, dalam versi Kesejarahan yang lain, Abu Nawas lebih dikenal sebagai tokoh jenaka yang sangat cerdik. Bahkan disebutkan, Abu Nawas adalah salah seorang pelawak kesayangan Khalifah Harun Ar Rasyid, bila kondisi batinnya sedang dalam kepenatan, Harun Ar Rasyid menjadikan Abu Nawas sebagai obat pelipur lara. Dia kerap mengajaknya bermain kata dan teka-teki yang penuh dengan kejenakaan.

Dalam salah satu kisah jenakanya antara keduanya, disebutkan bahwa disuatu ketika khalifah merasa sangat geram karena Abu Nawas selalu bisa saja memecahkan teka – tekinya. Karena itu khalifah memberi perintah yang mustahil bisa dilakukan oleh Abu Nawas, ( Yakni agar si Abu Nawas bisa menangkapkan Angin untuknya. Bila gagal, Abu Nawas akan mendapatkan hukuman berat.

Abu Nawas pusing yujuh keliling. Bagaina mungkin dia bisa menangkap angin yang tidak terwujud itu ?
Setelah berhari-hari berpikir keras, pada suatu malam pada saat ia tidur didalam kelambu, karena perutnya mules diapun berkali – kali “ buang gas “ yang sudah barang tentu baunya bukan main. Akal cerdik Abu Nawas langsung bekerja. Dia mengambil sebuah botol besar dan berkali-kali menampung ( Maaf ) kentutnya di dalam botol tersebut.
Dengan wajah berbunga-bunga keesokan harinya dia menghadap khalifah Harun Ar Rasyid.
“ apa yang kau bawa Abu ? “ tanya khalifah saat melihat Abu Nawas datang dengan membawa sebuah botol besar.

“ sesuai dengan perintah baginda, hamba telah berhasil menangkap Angin. Sekarang, angin itu berada dalam botol ini,” jawab Abu Nawas.

“ bagaimana mungkin, bukankah aku tidak dapat melihatnya ? “ balas khalifah.

“ baginda memang tidak dapat melihatnya, tapi baginda bisa mencium baunya. Kalau baginda ingin bukti, bukalah sendiri penutup botol ini ! “ jawab Abu Nawas lagi.

Khalifah mengambil botol itu dan membuka tutupnya. Bau busuk langsung menyergap hidungnya. Namun dia kemudian tertawa tergelak karena sekali lagi Abu Nawas bisa menjawab teka-tekinya yang sulit itu……

Kisah 1001 malam yang terkenal itu sebagian besar dihiasi dengan kisah – kisah kejenakaan Abu Nawas tidaklah sekonyol seperti yang digambarkan dalam kisah – kisah tersebut.

RAhmat Mulyadi Taman Bima Permai Blok A 11 Cirebon Jabar

BEBERAPA CONTOH SEPUTAR AKHLAK SUFI

diriwatkan oleh Anas bahwa seseorang bertanya
kepada Nabi Muhammad SAW, “ Wahai Rasulullah,
siapakah di antara orang-orang beriman
yang paling utamanya Imannya? “ Beliau menjawab ;
“ Yaitu mereka yang paling baik akhlaknya . “ ( HR. Ibnu Majah ).

Akhlak yang baik adalah keutamaan sejarah hidup hamba,sehingga mutiara-mutiara seseorang nampak. Manusia itu terlapisi oleh pisiknya, namun terungkap oleh akhlaknya.

Syekh Abu Ali AD-Daqqaq berkata ; “ Allah SWT menganugrahi utusanNya ( Muhammad SAW ) dengan keistimewaan sifat Beliau, dengan pujian yang sama sekali tidak tidak pernah dipujikan kepada makhluk lain karena itu Allah SWT berfirman , “ bahwa sesungguhnya Beliau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.

Muhammas Al Wasithy mengatakan, “ Allah SWT memberi predikat beliau dengan akhlak yang agung, karena beliau melerakan diri dari dunia dan akhiratnya, dan merasa puas hanya dengan Allah semata-mata, “

Al-Husen bin Manshur menjelaskan , “ Akhlak mulia adalah, bahwa engkau tidak terpengaruh kekasaran orang banyak, setelah engkau memperhatikan Akhlak.

Abu Sa’id Al-Karraz mengatakan ,” Akhlak mulia berarti engkau tidak mempunyai ciata-cita selain Allah SWT.

Al-Kattany menegaskan, “ Tasawuf adalah Akhlak. Barang siapa bertambah dalam akhlak, berarti bertambah pula dalam tasawuf.”

Al-Fudhail bin Iyad mengatakan , “ jika seseorang bertindak dengan Akhlak mulia dalam segala hal, tapi dia memperlakukan ayamnya dengan buruk, maka tidak dapat dianggap berakhlak baik.

Abdullah bin Muhammad Ar - Razy menyatakan , “ Akhlak berarti memandang rendah, bahwa engkau mencegah bahayaapaun yang datang darimu, serta mengagungkan yang datang dari Allah SWT. “

Syekh Al-Kirmany mengatakan,” sutu tanda Akhlak yang baik adalah, bahwa engkau mencegah bahaya dan secara rela menanggung kerugiannya yang mereka timpakan kepaamu.

Nabi SWT bersabda , “ engksu tidak akan dapat memberikan kebahagiaan orang lain dengan hartamu, karenanya berilah kebahagiaan dengan wajah yang manis dan Akhlak yang baik, “ ( HR . Al-Bazzar dan Hakim ).

Seorang bertanya kepada Dzu Nun Al; Misrhy, “ siapakah orang yang piling banyak cemas ? “ Ia menjawab, “ Orang yang paling buruk akhlaknya.

Wahb menegaskan, “ Jika seseorang mempraktekan akhlak mulia selama empat puluh hari, “ Allah akan menjadikan akhlak mulia sebagai sifat bawaan baginya. “

Dikatakan , “ Akhlak yang buruk menyempitkan hati pelakunya. Sebab ia tidak memberi ruang bagi apapun selain hawa nafsunya sendiri, dan hati menjadi sebuah ruangan sempit hanya cukup bagi pemiliknya. “

Dikatakan juga, “ suatu tanda keburukan akhlak Anda, manakala Anda hanya tertuju pada keburukan akhlak orang lain. “

Rasulullah SAW ditanya, “ apakah yang disebut celaka itu ? “ Beliau menjawab, “ Akhlak yang buruk .

Dikatakan, “ Akhlak yang baik berarti menanggung penderitaan dengan penuh kegembiraan. “

BEBERAPA CONTOH SEPUTAR AKHLAK SUFI

Yahya bin Ziyad Al-Haritsy ditanya berkaitan dengan seorang budak yang buruk perilakunya,” mengapa engkau masih tetap memeliharanya ? “

Ia menjawab,” agar aku dapat belajar bermurah hati, “
Dikatakan bahwa anak-anak apabila melihat Uways Al Qarny, mereka selalu melemparinya dengan batu. Karena itu ia mengatakan kepda mereka, jika kalian memang harus melempariku, gunakanlah yang kecil agar kakiku tidak teluka, yang membuatku terhalang shalat. “

Suatu ketika seorang laki-laki memaki Al-Ahnaf bin Qays dan menghinanya. Orang itu mengikuti dibelakangnya. Ketika Al-Ahnaf sampai dekat lingkungan kediamannya sendiri, ia berhenti dan menasasehati orang tersebut, “ wqahai anak muda, jika engkau masih punya kata-kata untuk di ucapkan, katakanlah sekarang, sebelum salah seorang tetanggaku yang bodoh mendengar, dan menjawab kata-katamu.

Dikatakan bahwa Sa’id Al Hiry sedang melewati jalan menjelan tengah hari ketoka seseorang di atas atap menumpahkan seember debu ke atas kepalanya. Kawan – kawannya menjadi marah dan mulai menereaki orang yang menumpahkan abu itu.”

Sa’id berkata, “ jangan mengatakan apa-apa ! orang yang layak memperoleh neraka. Tapi hanya dikenai abu saja, tidak berhak untuk marah.”

Diceritakan, Ibrahim bin Adham pergi kesalah satu padang pasir yang luas. Tiba-tiba seorang tentara muncul dihadapannya dan bertanya, “ dimana kampung yang paling ramai ?

Ibrahim menunjuk kerah kuburan. Si tentara itu lalu memukul kepala ibrahim bin Adham, ketika ia akhirnya melepaskan ibrahim, seseorang mengatakan kepadanya, “ itu tadi Ibrahim bin Adham, sufi dari Khurasan.”

Tentara itu lalu meminta maaf kepada ibrahim bin Adham, ibrahim berkata, “ krtika engkau memukulku, aku berdo’a kepada Allah SWT agar memasukanmu kedalam surga. “ tentara itu bertanya, “ Mengapa ? “

Ibrahim menjawab, “ aku tahu bahwa aku akan memperoleh pahala karena pukulanmu. Aku tidak ingin nasibku menjadi baik dengan kerugianmu, dan perhitungan amalmu menjadi buruk karena diriku.”

Diriwayatkan, ada seseorang mengundang Sa’id bin Ismail Al-Hiry ke rumahnya. Ketika Sa’id muncul di muka pintu, orang itu mengatakan kepadanya, “ Wahai Seikh, ini bukan waktu yang baik bagi tuan untuk

masuk kedalam rumahku. Maaf, silahkan pergi.”
Ketika Sa’id datang lagi kerumahnya, orang tersebut menyuruhnya pergi lagiseraya mengatakan, “ Maaf, tuan . “ ia menyuruh Sa’id supaya dtang lagi pada suatuwaktu tertentu. Orang itu mengatakan hal yang sama. ( peristiwa itu sampai terulang empat kali ).

Akhirnya orang itu menjelaskan, “ Wahai Seikh, aku hanya ingin menguji anda. Ia lalu meminta maaf kepada Sa’id lalu memuji-mujinya. Tapi Sa’id berkata, “ jangan memujiku karena sifat yang juga dimiliki oleh seekor anjing. Jika anjing dipanggil dia datang jika dia diusir dia pergi.”

Ibrahim bin adham ditanya, “ apakah anda pernah merasa senang di dunia ini ? “ ia menjawab, “ Ya, dua kali. Yang pertama, ketika aku sedang duduk dan seorang laki-laki mengencingiku. Yang kedua, ketika aku sedang duduk dan seorang laki-;aki datang menamparku.”

Diceritakan bahwa ketika Ma’ruf Al-Karkhy pergi berwudhu, ia meletakan Al-Qur’an dan jubahnya. Tiba-tiba seorang wanita datang dan membawa benda miliknya. Ma’ruf mengikutinya dari belakang lalu berkata, “ Wahai saudaraku, engka tidak apa-apa dengan perbuatanmu ini. Apaka engkau punya seorang anak laki-laki yang dapat membaca Al-Qur’an ? “

Tidak, “ jawab wanita itu, Ma’ruf lalu berkata, “ kalu begitu berikanlah Al-Qur’an itu, kembalikan kepadaku. Sedangkang jubah, silahkan ambil. “

Diceritakan bahwa Abdullah Al-Khayyath mempunyai pelanggan jahitan baju seorang majusi. Orang itu biada membayarnya dengan uang dhirham palsu dan Abdullah menerima saja. Suatu hari saat Abdullah sedang sibuk disuraunya, orang Majusi itu datang untuk mengambil pakaian pesanannya dan coba membayarnya dengan dhirham-dhirham palsu, yang diberikan kepada muridnya.

Namun oleh si murid di tolak. Akhirnya terpaksa si Majusi membayar dengan dirham asli, ketika abdullah datang, ia bertanya kepada muridnya. “ dimana pakaian pesanan orang Majusi itu? “
Simurid menceritakan apa yang telah terjadi, Abdullah marah kepada muridnya tersebut katanya, “ engkau telah melakukan kesalahan. Selama beberapa waktu, kami telah melakukan binis dengan caranya itu, dan aku bersabar saja. Dirham-dirham palsu itu biasa kulemparkan kedalam sumur, agar ia tidak menipu orang lain, selai diriku, “ ( disarikan dari kitab Rasalatul Qusyairiyah, karya Imam Al- Qusyairy An-Naisabury ).

Rahmat Mulyadi Taman Bima Permai Blok A 11 Cirebon Jabar

PERTEMUAN TOKOH SUFI DENGAN NABI KHIDIR

PERTEMUAN TOKOH SUFI
DENGAN NABI KHIDIR

Pertemuan antara seorang salih dengan Nabi Khidir AS. Memang selalu menarik untuk disimak. Metapa tidak, Khidir AS. Merupakansosok yang unik sehingga tidak semua orang dapat bersua dengannya, pun, di dalam pertemuan tersebut acap dihiasi dengan berbagai hal yang bersifat supranatural serta serat dengan pelajaran yang bernilai sangat luhur. Berikut adalah kisah tentang pertemuam istimewa beberapa antara tokoh sufi dengan Nabi Khidir as, yang sengaja diambil dari berbagai kitab tasauf pilihan.

Diselamatkan Khidir

Ibrahim bin Adham adalah Raja Balkh yang sangat luas kekuasaannya. Ke mana pun dia pergi, empat puluh bilah pedang emas dan empat puluh batang tongkat emas kebesarannya di usung didepan dan dibelakangnya oleh para hulubalang dan prajurit sang raja.

Pada suatu malam, ketika Ibrahim tidur di kamar istananya, mendadak langit – langit kamar berderak – derak seolah ada seseorang sedang berjalan di atasnya Ibrahim pun terjaga dan berteriak, “ Siapakah itu ? “

“ seorang sahabat untaku hilang dan aku sedang mencarinya di atap ini ! “ terdengar sebuah jawaban dari atas sana.

Goblok ! engkau hendak mencari unta di atas atap, mana mungkin dia sampai di sana, “ sergah Ibrahim menahan kekesalan.

Wahai manusia yang lalai, apakah engkau hendak mencari Allah dengan berpakaian sutra dan tidur di atas ranjang emas ? “ jawab pemilik suara mistrius yang tak lain adalah Nabi Khidir AS, penuh dengan sindiran.

Kata – kata itu ternyata mampu menggetarkan hati Ibrahim. Dia amat gelisah sehingga malam itu tak mampu meneruskan tidurnya lagi.

Ketika hari telah siang, ibrahim menuju keruang pertemuan dan duduk di singga sananya dengan pikiran yang galau memikirkan sensasi yang di alaminya semalam. Sementara itu, para mentri telah berdiri di tempatnya masing – masing, dan para hamba telah berbaris sesuai dengan tingkatan mereka. Semuanya siap menunggu titah sang Raja.

Ketika acara pertemuan akan dimulai, tiba-tiba, seorang lelaki berwajah amat menakutkan masuk kedalam ruangan. Wajah si lelaki yang teramat menakutkan telah membuat tak ada seorang pun yang berani menegurnya, apalagi menanyakan nama dan

maksud kedatangannya. Lidah mereka mendadak kelu ! sementara, dengan langkah yang tenang, lelaki itu melangkah menuju ke singgasana Raja.
“ apakah yang engkau inginkan ? “ tanya ibrahim dengan memberanikan diri.
“ Aku baru saja sampai di persinggahan ini, “ jawab lelaki itu.
“ Ini bukan tempat persinggahan para kalifah. Ini adalah istanaku. Apakah engkau sudah gila ! “ Hardik ibrahim yang sudah habis kesabarannya.

“ siapakah pemilik istana ini sebelum enkau ? “ tanya lelaki itu.
“ Ayahku ! “ jawab ibrahim, memendam kekesalan.
“ dan sebelum Ayahmu ? “
“ Kakekku ! “
“ dan sebelum kakekmu ? “
“ Ayah dari kakekku ! “
“ dan sebelum dia ? “
“ Kakek dari kakekku ! “
“ kemanakah mereka sekarang ini ? “
“ Mereka telah tida, wafat, “
“ Jika demikian, bukankah ini sebuah persinggahan yang di masuki oleh seseorang dan di tinggalkan oleh yang lainnya? “

setelah berkata demikian, lelaki yang sesungguhnya adalah Khidir itu langsung menghilang. Demikianlah, dengan seizin Allah, Khidir adalah manusia pertama yang telah menyelamatkan Ibrahim. Dan dikemudian hari, ibrahim menjadi salah seorang tokoh sufi terkenal, dan perbuatannya banyak menghiasi kitab tasauf.

Tidak dikenal Khidir

Seorang tua berwajah cerah berseri-seri, mengenakan jubah yang anggun, pada suatu hari melewati gerbang Banu Syaibah dan menghampiri Abu Bakar Al-Khattani yang sedang berdiri dengan kepala menunduk. Setelah saling mengucapkan salam, orang tua itu berkata, “ mengapakah engkau tidak pergi ke maqom Ibrahim ? seorang guru besar telah datang dan dia sedang menyampaikan hadits – hadits yang mulia. Marilah kita kesana untuk mendengarkan kata-katanya.”

Siapakah perawi dari hadits – hadits yang dikhutbahkannya itu ? tanya Kattani.

“ dari abdulah bin ma’mar, dari Zuhri, dari Abu Hurairah dan dari Muhammad, “ jawab orang tua itu.

“ sebuah rangkaian panjang. Segala sesuatu yang dia sampaikan melalui rangkaian panjang para perawi, dan kita dapat mendengar langsung khutbahnya di tempat tersebut dari tempat ini, “ kata Kattani.

Melalui siapakah engkau mendengar ? “ tanya lelaki tua itu.
Hatiku menyampaikannya kepadaku l;angsung dari Allah ! “ jawab Kattani.
“ Apakah kata-katamu dapat dibuktikan? “ tanya orang tua itu lagi.

“ Inilah buktinya. Hatiku mengatakan bahwa engkau adalah Khadir AS.”
“ Selama ini aku mengira tak ada sehabat Allah yang tidak kukenal. Namun ternyata engkau, Abu Bakar Kattani, tidak kukenal tetapi engkau mengenalku. Maka, sadarlah aku masih ada sahabat – sahabat Allah yang tidak kukenal namun mereka mengenalku, ‘ kata Khidir as.

Karya tulis untuk Khidir

Pada suatu waktu, ketika masih kanak-kanak, Muhammad bin Ali Tirmizi ( yang dikenal dengan nama Al Hakim ) bersama dengan dua anak lainnya bertekad akan melakukan pengembaraan guna menutut ilmu. Ketika akan berangkat, ibunya pun nampak sangat bersedih.

Wahai buah hati ibu, aku seorang perempuan yang sudah tua dan lemah. Bila ananda pergi, tak ada seoarang pun yang ibunda miliki di dunia ini. Selama ini ananda tempat ibunda bersandar. Kepada siapakah ananda menitipkan ibunda yang sebatang kara dan lemah ini ? kata sang bunda dengan berurai air mata.

Kata-kata itu menggoyahkan Tirmidzi . dia membatalkan niatnya, sementara kedua sahabatnya tetap berangkat mengembara untuk mencari Ilmu.

Satu hari, Tirmidzi duduk di sebuah pemakaman sambil meratapi nasibnya.” Di sinilah aku ! tiada seorang pun yang peduli kepadaku yang bodoh ini, sedang kedua sahabatku itu, nanti akan kembali sebagai orang –orang yang terpelajar dan berpendidikan tinggi, “ keluhnya lagi.

Tiba – tiba, di hadapan Tarmidzi muncul seorang tua dengan wajah berseri-seri. Dia menegur Tarmidzi, “ Nak, mangapakah engkau menangis sampai sedih ini ? “

Tirmidzi lalu menceritakan segala persoalan yang tengah di hadapinya.

Maukah engkau menerima pelajaran dari saya setiap hari sehingga dapat melampaui kedua sahabatmu itu dalam waktu yang singkat ? tanya orang tua itu kemudian.

Aku bersedia ! “ jawab Tarmidzi dengan kegirangan.

Sejak itu, setiap hari, orang tua itu memberikan pelajaran kepada Tarmidzi. Setelah tiga tahun berlalu, barulah dia menyadari bahwa sesungguhnya orang tua itu adalah Nabi Khidir AS. Tarmidzi memperoleh keberuntungan yang seperti itu karena dia berbakti kepada Ibunya.

Menurut Abu Bakr Al Warraq ( salah seorang murid Tarmidzi yang kemudian menjadi seorang sufi besar dan dijuluki guru para wali ), setiap hari minggu, Nabi Khidir mengunjungi Tarmidzi dan kemudian memperbincangkan berbagai persoalan.

Dikisahkan pada suatu hari Tarmidzi menyerahkan buku-buku karyanya kepada Al Warraq untuk dibuang kesungai Oxus. Ketika diperiksa, ternyata buku-buku tersebut penuh dengan seluk beluk dan kebenaran kebenaran mistis ( Tasauf ) Al Warraq tak tega untuk melaksanakan perintah Tarmidzi, buku-buku tersebut dia simpan di dalam kamarnya. Kemudian dia katakan kepada sang guru bahwa buku-buku itu telah dilemparkannya ke sungai.

“ apakah yang engkau saksikan setelah itu ? “ tanya Tarmidzi.
“ Tidak satupun, “ jawab Al Warraq.
“ kalau begitu, engkau belum membuang buku-buku itu kedalam sungai. Pergilah dan buang segera buku-buku itu, “ printah tarmidzi.

“ Al Warraq tak dapat membantah perintah gurunya. “ mengapa dia ingin membuang buku-buku ini ke dalam sungai ? apakah gerangan yang akan kesaksikan nanti ? “ Tanya Al - Warraq dalam hati sambil berjalan menuju ke sungai Oxus.

“ Setibanya ditepi sungai, Al Warraq melemparkan buku-buku yang sangat tinggi nilainya itu. Ajaib ! seketika itu juga air sungai terbelah. Lalu nampak sebuah peti yang terbuka tutupnya dan buku-buku itu pun jatuh kedalamnya. Setelah tutup peti itu mengatup. Air sungai pun bersatu kembali. Al Warraq terheran-heran menyaksikan kejadian itu.

“ Guru, demi keagungan Allah, katakanlah kepadaku apakah Rahasia di balik semua ini ? “ tanya Al Warraq setibanya kembali di hadapan sang guru dan menceritakan segala kejadian yang disaksikannya.

“ Aku telah menulis buku-buku mengenai ilmu tasauf dengan keterangan –keterangan yang sulit untuk difahami oleh manusia – manusia biasa. Saudaraku Khadir meminta buku-buku itu. Dan peti yang engkau lihat tadi dibawa oleh seekor ikan atas pemintaan Khidir, sedang Allah Yang Maha Besar, memerintahkan kepada air untuk mengantarkan peti itu kepadanya, “ jelas Tarmidzi.

Rahmat Mulyadi Taman Bima Permai Blok A 11 Cirebon Jabar

MENANGIS ALA SUFI

MENANGIS ALA SUFI

Tangis dan air mata dinilai sangat tinggi
Oleh orang – orang Sufi.
Tangis penyesalan akibat kesadaran
Tentang segala dosa yang pernah diperbuat,
bukan tangis si cengeng
Yang tidak terpenuhi nafsu dunianya ....

Bagi seorang sufi tangis dan air mata itu mendapat nilai tertentu sebagai bukti penyesalan diri atas kehendak Tuhan. Dalam Qur’an memang disebutkan sebuah ceruta dari segolongan manusia yang meresa menyesal atau dosa yang diperbuatnya, kemudian diperingatkan akan akibatnya yang pedih dalam Neraka, “
Hendaklah mereka tertawa sedikit, dan memperbanyak menangis, sebagai balasan untuk apa yang mereka lakukan. “ ( Qur’an I X : 82 ).

Lalu tangis dan tumpahan air mata itu menjadi satu amal abadiyah, suatu Riyadho, yang terpuji bagi seorang Sufi. Mereka mengemukakan, bahwa Nabi –Nabi pun menangis untuk menyesali dosanya.

Bukankah Nabi Daud atas penyesalannya pernah menumpahkan air mata yang tidak sedikit? Ya, dikisahakan Nabi Daud menangis ( 40 hari lamanya ), menumpahkan air mata dalam keadaan sujud, tidak mengangkat – ngangkatkepalanya, sehinga lapangan tandus tempat ia meletakan dahinya menjadi pdang rumput, yang menutupi seluruh kepalanya.

Lalu diserukan kepadanya,” Hai Daud ! tidakah engkau lapar, agar diberi makan ? tidakah engu dahaga, agar diberi minum ? tidakah engkau telanjang, agar diberi pakaian ? “
Daud mengais lebih sangat lagi, sehingga terguncang dan keringlah pohon – pohon kayu sekitarnya, serta terbakar dari perasaan takutnya. Kemudian barulah diturunkan taubat pada telapak tangannya, sehingga dia tidak berani membuka untuk makan dan minum, dan tidak berani melihatnya kecuali dia terus menangis.

Kemudian didatangkan oranglah sebuah mangkuk yang berisi dua pertiganya dengan air. Apabila dia hendak meletakan tangannya ke atas mangkuk itu karena ingin minum, dilihatlah dosanya, lalu dia menangis pula, sehingga air matanya yang jatuh kedalam mangkuk itu membuat mangkuk menjadi penuh berlimpah.

Diceritakan, bahwa Nabi daud itu apa bila dia hendak menangis, maka dia akan menahan diri tujuh hari, tidak makan, tidak minum dan tidak mendekati perempuan. Sehari sebelum itu dikeluarkanlah oranglah sebuah mimbar ditengah gurun, sambil memerintahkan Sulaiman, Putranya, menyiarkan berita ke seluruh negri, dan ke seluruh hutan belantara.

Maka berkumpul pada hari itu segala manusia dan binatang hendak mendengar apa yang disampaikan oleh Nabi Daud. Sesudah dia Naik ke atas mimbar yang dikelilingi oleh bani israil, maka Daudpun memulai khutbahnya dengan memuji Tuhan sambil menangis tersedu – sedu.

Tatkala khutbah itu sampai kepada cerita sorga dan neraka maka matilah kebahagiaan yang ada di seluruh Hati dan diri binatang dan manusia yang hadir, dan tetkala cerita itu sampai kepada uraian mengenai hari Kiamat, maka matilah semua makhluk itu.

Waktu Sulaiman, yang berdiri di dekatnya, melihat banyak makhluk yang mati, berkatalah dia kepada Daud, ayahnya, “ Wahai, ayahku ! Engkau telah mencabik – cabik pendengar yang hadir dan telah mati, sebagian dari binatang buas.

Maka barulah Nabi Daud berdo’a, agar binatang dan manusia yang mati kembali dihidupkan. Melihat hal ini, sebagian dari orang Yahudi itu berseru, “ kelihatannya engkau bergegas – gegas minta balasan jasa kepada Tuhan, “

Mendengar hal ini, maka menangis pulalah Daudsambil bersujud.

Demikian seorang sufi memberikan gambaran tangis menyesali diri, tangis Daud yang tak ada taranya, yang harus dicontoh dan diteladani. Untuk mendapat ampunan Tuhan sebagaimana diucapkan kepada Daud itu.

Dalam Al - Qur’an hanya tersebut, “
Sungguh banyak orang yang berserikat itu menganiaya yang seorang kepada yang lain, kecuali orang – orang yang beriman dan beramal salieh, meskipun amat sedikit bilangan mereka itu. Maka tahulah Daud, bahwa kami memuji dia, lalu dia pun meminta ampunan kepada Tuhan, seraya tertelungkup, tunduk dan minta taubat.

Kemudian kamipun mengampuni kesalahn itu. Dipastikan bahwa dia mendapat tempat yang terdekat pada kami dan tempat kembali yang sebaik – baiknya. Wahai Daud ! kami jadikan engkau khalifah di muka bumi. Sebagai berikut itu hendaklah engkau menghukum antara manusia dengan kebenaran, jangan engkau menuruti hawa nafsu , karena dia dapat menyesatkan engkau dari jalan Allah.”

Orang yang sesat dari jalan Allah itu akan mendapat siksa yang keras, karena mereka lupa akan perhitungan pada hari akhir / kiamat. Begitun juga Tangis Yahya dapat dijadikan contoh dan teladan bagi kita dalam menyesali dosa – dosa kita dihadapan Allah.

Diceritakan bahwa jika Yahya menangis menyesali dirinya, menangis pulalah pohon – pohonan, dan Gema Tangisnya membuat berguncang tanah-tanah di sekelilingnya

Demikian Yahya itu, siang malam menangis sehingga air matanya itu merusakan pipinya, sampai kelihatan rahangnya pada orang banyak..

Melihat keadaan itu kemudian Ibunya menambal pipinya dengan bulu-buluan. Tetapi tetkala yahya shalat dia kembali menangis, maka bulu – bulu itu menjadi basah kuyup pula. Tetkala ibunya berulang – ulang datang memeras air mata itu pada bulu itu, yang turut membasahi kedua tangan Ibunya, yahya pun berdo’a “ Ya Tuhanku ! inilah air mataku, inilah Ibuku, dan inilah aku hamba Mu, Limpahilah balas kasihMu, karena Engkau sangat pengasih dan penyayang.

Kemudian pada ayahnya Yahya berkata, “ wahai ayahku ! jibril telah menceritakan kepadaku bahwa antara Sorga dan Neraka terletak sebab yang membahagiakan, yang hanya dapat dicapai oleh orang – orang yang menangis.”

Lalu Zakaria, sang ayah, berkata, “ Wahai anaku ! Kalau demikian menangislah engkau sesukamu. “

Beberapa contoh di atas telah cukup menunjukan bukti bahwa tangis dan air mata dinilai sangat tinggioleh orang – orang sufi, Tangis penyesalan akibat kesadaran tentang segala dosa yang pernah diperbuat, bukan tangis si cengeng yang tidak terpenuhinya nafsu dunianya, ataupun tangis ratapan seseorang yang tidak kuat menanggung cobaan hidup tidak juga tangis manusia yang putus asa atas segala ketentuan Tuhan.

Tangis yang seperti iyu tidak hanya dilarang tetapi juga menurut ilmu jiwa bisa merusak kesehatan jasmani dan rohani, yang menjadikan ( dinding antara manusia denganTuhannya adalah Syahwat ) yang selalu mengganggu Hati dan jiwa manusia, sehingga lupa kepada Tuhannya.

Untuk menembus Hijab penghalang itu, perlu kesadaran, dan kesadaran itu tidak lain tercermin ke dalam sebuah penyesalan yang membawa kepada tangis dan air mata. Jadi kesimpulannya menangis itu tidak hanya pantas dilakukan bagi anak – anak yang masih cengeng saja, justru para manusia dewasa dan sudah tua harus sering – sering menangis karena menyesali segala dosa yang pernah dilakukan, sebelum air mata itu sendiri tidak bisa mengalir dan air mata yang sudah tertutup rapat untuk selamanya – lamnya. “

Rahmat Mulyadi Taman Bima Permai Blok A 11 Cirebon Jabar

IBRAHIM AL- KHAUWASH

IBRAHIM AL-KHAUWASH

ABU ISHAQ Ibrahim Al-Khauwash dari Samarra adalah seorang sahabat Al-junaed. Dia termasyhur karen pengembaraannya yang lama di padang pasir. Dia meninggal dunia di Rayy pada tahun ( 291 H / 904 M ).

Sebagai seorang wali Allah dan salah satu tokoh sufi yang sangat terkenal, Ibrahim banyak di anugrahi keistimewaan atau karomah. Di antaranya, dikisahkan, pada suatu hari di padang pasir dia didatangi seekor singa yang bertubuh besar, setelah dekat brulah diketahui bahwa singa berjalan terpincang-pincang.

Binatang buas tersebut berebahkan dirinya di hadapan Ibrahim dan mengerang kesakitan. Setelah diamati ternyata kakinya bengkak dan bernanah Ibrahim mengambil sepotong kayu dan menoreh bengkak di kaki hewan itu sampai semua nanah didalamnya keluar. Kemudian dengan secarik kain, kaki singa itu dibalutnya.

Setelah itu si singa bangkit dan pergi meninggalkan ibrahim, si singa datang lagi bersama anak-anaknya yang masih kecil, sambil mengibas-ngibaskan ekornya, mereka mengelilingi Ibrahim kemudian menaruh sepotong roti.

Keajaiban lainnya, misalnya, pada suatu hari Ibrahim tersesat di padang pasir. Berhari-hari lamanya dia kehilangan arah. Tiba-tiba disuatu tempat terdengan suara kokok ayam, Ibrahim kegirangan dan berjalan kearah datangnya suara kokok ayam tersebut.

Tetapi yang dijumpainya adalah seseorang yang segera menyerang dan memukul tengkuknya. Pukulan itu sangat menyakitkan.

“ Ya Allah, beginikah perlakuan orang terhadap seseorang yang memasrahkan diri kepadaMu ? “ seru Ibrahim.

Maka terdengarlah sebuah seruan yang ditunjukan kepada Ibrahim, “ selama engkau percaya kepadaKu, “ selama itu pula engkau Mulia menurut pandanganKu. Tetapi karena engkau telah mempercayai kokok seekor ayam, maka terimalah olehmu pukulan itu sebagai hukuman.

Mendengar seruan itu Ibrahim merasa sangat malu. Dia lalu meneruskan perjalanan meskipun tubuhnya masih merasa askit akibat pukulan tadi. “

Rahmat Mulyadi Taman Bima Permai Blok A 11 Cirebon Jabar